Bukit Jambul Bali

Telkomsel Kendari Baubau Rusman dkk.

Lebaran Idul Fitri 2012 di Baubau Sultra

Eureka Try Zaraz Wanty R. Laega, Aal Algebra R Laega, Algibran Zaid R. Laega.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2014

Dihadiri Kadis Dinas Sosial Transmigrasi dan Tenaga Kerja Bapak Drs. H. La ode Zulkifli dan Ibu.

Muhammad Radi, S.Pd, MM.Pd di Seoul Korea Selatan

Program Wali Kota Baubau Drs.Amirul Tamim, M.Si. Belajar Bahasa Korea dan Cia-cia di Seoul Korea Selatan

Serah Terima Jabatan Ka.SMA N 2 Baubau

Dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Baubau Drs. H. Masri, M.Pd.Sekretaris, Kabid, Kasi, Kepala SMA/SMK, Korwas dan semua guru SMA N 2 Baubau, Bu Rahama, S.Pd,

Jumat, 27 November 2015

Pelatihan PIK KRR SMA Negeri 2 Baubau

Pentingnya Pengetahuan Kesehatan Reproduksi  Remaja
Sebagai bentuk optimalisassi pelayanan Pendidikan kesehatan kepada remaja, kepada  SMAN 2 Baubau mulai gencar mengadakan kegiatan Sosialisasi Kesehatan reproduksi remaja. Salah satunya yakni mengadakan Latihan pengembangan Keahlian yang akan dilaksanakan tgl 27 s.d 28 Nov 2015 di SMAN 2 Baubau. Kegiatan ini di fokuskan pada remaja, mengingat usia ini rentan sekali yg namanya hal hal baru baik yang positif maupun yang negatif. Karema ketidaktahuan dengan masalah kesehatan reproduksi remaja sehingga berujung pada kehamilan pra nikah, aborsi, putus sekolah,  tindak kekerasan, seks bebas, dan penyalagunaan narkoba, keberadaan remaja sebagai penentu  arah masa depan bangsa indonesia sepatutnya harus memiliki bekal yang mapan, baik tingkat kuantitas maupun kwalitas.
Untuk itu perlu adanya upaya kongkrik untuk mewujutkan generasi yang unggul dan berkwalitas, salah satunya melalaui kegiatan ini. Diharapkan kepada remaja yang sedang masuk ketahap pencarian jati diri ini dapat diarahkan ke ranah yang lebih positif.
 Hadir pada kegiatan ini Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Baubau Drs. Masri, M,Pd,  Kepala Dinas BKKBN Kota Baubau Drs. La Ode Darussalam, M,Si, Drs. Mujizat, M.Si, ,P, Hd

Kamis, 26 November 2015

SMA Negeri 2 Baubau Raih Medali Emas Pada Piala Mendikbud di Makassar 23 Nov 2015

Makassar, 23 November 2015
Siswa SMA Negeri 2 Baubau kembali mengharumkan  Nama kota Baubau di ajang Sciense Competition XVII  Se Indonesia di Makassar memperebutkan piala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala  SMA Negeri 2 Baubau Muhammad Radi, S.Pd, MM.Pd pada ajang ini diikuti sekitar 2000 siswa se Indonesia, ada dari Jawa, Sulawesi, Sumatra, Ambon  dll. SMA Negeri 2 Baubau
Meraih 2 Medali emas ( Arum Virya Jenola dan Muhammad Ahsan Zakir ) , 2 Medali Perak per Individu ( Muhammad Ikram Sasbita dan Muhammad Fadil Ahsan), 2 Medali Perunggu ( Karina Nuzulan dan Azmi Fatin) serta 4 Medali perak untuk tim SMAN 2 Baubau. Medali ini diperoleh atas kerja keras dari siswa, bimbingan dari guru, serta motivasi dari Pemerintah Kota Baubau Khususnya dari Kepala dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Baubau Bapak Drs. H.Masri, M.Pd

Selasa, 03 November 2015

Marching Band Pada MTQ KE IX Kota Baubau

Marching Band Gita Wiyata Cerdas, didirikan tanggal 2 Mei 2015 bersamaan dengan hari pendidikan Nasional yang mempunyai ciri khas Kelembutan dan Kedamaian

MTQ KE IX KOTA BAUBAU

Pembukaan MTQ ke IX tanggal 3 November 2015 dibuka Oleh wakil Walikota Baubau dan diiringi marchingband Gita Wiata Cerdas SMAN 2 Baubau

Selasa, 06 Oktober 2015

TARI KOLOSAL HUT BAUBAU KE-14 Tahun 2015

Hut kota Baubau yang ke 14 bulan Oktober 2015 dimeriahkan oleh  Artis ibu kota serta diisi dng beberapa kegiatan diantaranya Tari massal yg melibatkan 11.500 siswa SD,SMP/MTSN/SMA/MAN sekota Baubau, Pameran hasil pembangunan, ritual Batu Puaro, Lomba perahu layar dll....

Pelantikan Ketua Osis SMAN2BAUBSU 2015 / 2016


Pelantikan Ketua OSIS SMA Negaeri 2 Baubau dilaksakan tgl 28 september 2015 dilapangan Basket SMA Negeri 2 Baubau, dihadiri oleh semua guru dan semua siswa, pada pelantikan tsb semua guru menggunakan Kampurui dan sarung buton

SMAN2 BAUBAU JUARA 1 MATEMATIKA DAN BHS INGGRIS TINGKAT SULTRA 2015

Sella dan Dani juara 1 matematika  , Bhs Inggris Sultra   yg diselenggarakan oleh UNIVERSITAS  BRAWIJAYA MALANG dan Final 8 sd 13 Oktober 2015 di Brawijaya malang

Rabu, 04 Maret 2015

SMAN 2 BAUBAU 2015

SMA Negeri 2 Baubau Tahun 2015/2016

Minggu, 01 Maret 2015

Juara Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kota Baubau 2015 SMAN 2 Baubau

Siswa Berprestasi SMA Negeri 2 Baubau Pada Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kota Baubau 2015






















Nama Siswa dan Guru Pembina
1. Muhammad Aldi Sidik Juara 1 Kimia Tingkat Kota Baubau ( Syamsudin, S.Pd, M.Pd)
2. La Ode Abdul Haris Juara 1 Biologi ( Taharu, S.Pd, MP)
3. Muhammad Ikram Zasbita  Juara 1 Ekonomi ( Drs. Zainudin., Zahludin, S.Pd )
4. Fadil Achsan Juara 1 Kebumian ( Erni Masfah, BA )
5. Muhammad Alfatri Juara 1 Geografi ( Erni Masfah, BA)
6. Arum Virya Jennola Juara 1 Astronomi ( Umi Salamah, S.Pd, M.Pd)
7. Wa Ode Sela Syawepan Juara 2 Matematika ( Maulidin, S.Si, M.Si)
8. Novry Mahdevika Juara 2 Fisika ( Nur Fitri, S.Si)
9. Nur Fitria Putri Juara 2 Biologi
10. Miftahul Huda Asmin Juara 2 Ekonomi
11. Muhammad Raza Pahlawan Eba juara 2 Kebumian
12. Muhammad Nur Ahsan Zakir Juara 2 Astronomi
13. Nuzulan Karina Dinani Juara 3 Ekonomi
14. Siti Fajriah Juara 3 Astronomi

Kepala SMA Negeri 2 Baubau
MUHAMMAD RADI, S.Pd, MM.Pd

Untuk Olimpiade  Sains SMP Klik Disini

Selasa, 03 Februari 2015

Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Ka.Mabigus

Pramuka SMA Negeri 2 Baubau
Kepramukaan ialah proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak.
Berbeda dengan pendidikan nonformal lainnya, Kepramukaan mencakup keempat “soko guru” pendidikan, yaitu: belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang, serta memiliki sistem pendidikan terorganisasi dan lengkap dengan lima komponen utamanya, yakni: Tujuan Pendidikan, Peserta didik, Yang Mendidik, Metode Pendidikan dan Materi pendidikan atau kurikulum.

Pendekatan pendidikan yang digunakan dalam kepramukaan adalah pendekatan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Namun demikian, kepramukaan tetap merupakan pelengkap jalur-jalur pendidikan lainnya dan memberi kontribusi kepada keseluruhan pendidikan anak muda.
Melihat uraian di atas, jelas bahwa kegiatan kepramukaan adalah kegiatan menarik yang dilakukan di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu ciri khas pelaksanaan kegiatan Pramuka yang membedakan kegiatan tersebut dengan kegiatan di luar kepramukaan.

Sayangnya kegiatan kepramukaan di sekolah sangat dipengaruhi oleh minat atau peran Kepala Sekolah yang menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Gudep (eks oficio) melekat pada jabatannya. Sehingga seberapa banyak pemahaman seorang Kepala Sekolah sangat berpengaruh terhadap kegiatan kepramukaan di gugus depannya. Jika seorang Kepala Sekolah pernah mengalami pengalaman buruk selama menjadi peserta didik (terutama kaitannya dengan kepramukaan) maka hal ini akan berpengaruh pada policynya terhadap kegiatan kepramukaan di sekolah yang dipimpinnya. Jadi kalau boleh saya katakan jika Kepala Sekolah tidak suka dengan gerakan pramuka maka praktis tak akan ada ijin untuk berkegiatan, entah mungkin dianggap kegiatan yang tidak berguna, latihan terus kapan prakteknya?,  menghambur-hamburkan uang dan masih seabrek alasan lain untuk meniadakan kegiatan kepramukaan.


Ditambah lagi seorang Kepala Sekolah tak juga merasa penasaran untuk meluruskan pemahamannya dengan mencari tahu aturan yang benar tentang kepramukaan. Sepertinya apriori yang salah tetap menjadi pegangan bagi dirinya kalau Pramuka itu tidak bermanfaat.
Padahal beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Yusuf Kalla, di sela kunjungannya ke Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur, menyatakan, kegiatan kepramukaan di sekolah akan diperbolehkan menggunakan dana BOS. Semua itu akan berlaku di sekolah negeri maupun swasta. Wapres Yusuf Kalla mengatakan, kegiatan kepramukaan akan diprioritaskan untuk pembentukan karakter. Setali tiga uang, Pembina Pramuka di gugusdepan pun hanya melaksanakan tugas karena perintah kepala sekolah bukan karena kemampuan dan keahliannya membina generasi muda. Padahal peran pembina Pramuka sebagai pendidik tidak bisa dilaksanakan secara tradisional seperti yang biasa dilakukan dalam lingkungan pendidikan lain. Ketika  menganalisis Regu sebagai sebuah komunitas pembelajaran, semua proses pembelajaran merupakan proses perubahan. Itulah sebabnya Pembina Pramuka harus berperan sebagai agen perubahan (agent of change).

Pembina menciptakan rangsangan antara kenyataan dan idealisme di masa depan. Rangsangan ini mendorong peserta didik untuk bertindak sesuai visi tentang masa depan yang lebih baik dan menjadi lebih baik. Pembina menunjukkan kepada peserta didik tentang masa depan dan menjadikannya kenyataan. Mendidik adalah menunjukkan pentingnya  masalah perkembangan diri, dan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan, yang mendampingi peserta didik untuk menjadi apa yang mereka bisa inginkan serta meneruskan nilai-nilai yang mereka butuhkan untuk memperoleh akses ke masa depan, untuk mengubah realitas saat ini.
Agar dapat memikul tanggung jawabnya, Pembina harus memiliki dan memenuhi persyaratan pokok atau persyaratan umum tentang sifat dasar pendidikan dalam kepramukaan yang meliputi: a) kesehatan mental; b) kestabilan emosi; c) kepantasan moral; d) kendali agresivitas; e) kencenderungan otoriter; dan f) perlakuan yang penuh rasa hormat dan berbudi terhadap orang lain, terutama peserta didik.

Pembina tidak boleh lupa bahwa peserta didik tidak bergabung dengan Satuan Pramuka untuk belajar mata pelajaran tertentu atau mencari nilai seperti di sekolah. Mereka tidak datang untuk menerima kasih sayang seorang kebapakan atau keibuan. Itu sudah mereka dapatkan di rumah. Mereka tidak datang untuk menerima perintah agama. Itu bisa dilakukan di tempat ibadah. Mereka tidak bergabung dengan Satuan untuk mengembangkan keterampilan fisik. Untuk itu, mereka bisa ikut klub olah raga. Mereka tidak datang untuk mempelajari disiplin yang kaku atau mematuhi perintah. Mereka bisa bergabung ke militer kalau mereka mau untuk itu.
Pembina Pramuka harus berusaha menguasai bahan latihan kegiatan, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk mengunakan tenaga orang lain yang lebih menguasai dan menghayati bahan-bahan dalam membina peserta didik, Penguasaan bahan latihan perlu ditunjang dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan kepentingannya.


Senin, 19 Januari 2015

Mulailah Menulis......Februari 2015

Mulailah Menulis..!!

    "MENANGIS" merupakan keterampilan berbahasa yang pertama kali terungkap pada diri manusia ketika terlahir ke dunia.  Sungguh hal tersebut merupakan sebuah anugerah yang sangat mahal yang telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia.  Manusia seakan sudah menyepakati, ketika bayi terlahir dalam keadaan "menangis", hal tersebut merupakan sebuah pertanda bahwa bayi tersebut berada dalam kondisi sehat.  "Menangis" sebagai ungkapan reaksi karena bayi merespons rangsangan atau aksi yang telah ia terima.
       Dalam pembelajaran berbahasa, menangis merupakan sebuah representasi dari salah satu mata rantai "Keterampilan Berbahasa" yaitu "Berbicara".  Secara alami, manusia melakukan proses pemerolehan atau pembelajaran berbahasa melalui empat tahap, yaitu Menyimak, Berbicara, Membaca, dan Menulis.  Kita akan mampu berbicara jika kita mampu menyimak, dan kita akan mampu menulis jika kita mampu membaca.
      Namun, sungguh sangat kita sayangkan apabila kita sebagai manusia cukup merasa puas dengan hanya memiliki dua keterampilan berbahasa saja, yaitu Menyimak dan Berbicara, sedangkan keterampilan Membaca dan Menulis sering kali kita abaikan.  Padahal, menulis merupakan tahapan tertinggi dalam proses berbahasa.  Mengapa banyak manusia yang tidak berusaha menggali potensi "Menulis" dan mewujudkannya menjadi sebuah keterampilan?
       Bung Tomo, kita kenal sebagai motor perjuangan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa pertempuran 10 November sehingga diperingati sebagai Hari pahlawan.  Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan, menjadi Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Mereka lebih kita kenal sebagai orator yang ulung.  Namun, nilai-nilai semangat perjuangan yang mereka miliki seakan hanya terasa lebih dahsyat oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka pada saat itu.  Kita sebagai generasi penerus bangsa kurang merasakan gaungnya karena kita tidak dapat memahami lebih jauh lagi akan pribadi, karakter, dan pemikirannya.
      Tidak dapat kita pungkiri ternyata dunia ini berubah karena tulisan berpengaruh sangat besar.  George Walker Bush mampu menginvasi Afghanistan dan Irak, serta berani mengancam Iran dan Suriah karena terinspirasi oleh buku Clash Civilization karya Samuel Huntington. Karya tulis terbukti ampuh memiliki efek yang lebih lama daripada pidato.

       Bukanlah hal yang absurd apabila empat tahap proses pemerolehan berbahasa kita balik menjadi Menulis, Membaca, Berbicara, dan Menyimak. Tidak berdosa bukan?  Kita jadikan "Keterampilan Menulis" sebagai kerbau sehingga Membaca, Berbicara, dan Menyimak kita jadikan talinya.  Sudah menjadi hal yang lumrah jika kita membeli kerbau, talinya pun turut kita miliki.  Namun, ketika kita membeli tali, tidak otomatis kita memiliki kerbau.  Jadikanlah Menulis sebagai kebutuhan pokok sehingga mau tidak mau kita pun melakukan proses membaca, berbicara, dan menyimak!  Apabila kita telah merasa puas menikmati kepandaian dalam berbicara, jangankan mahir menulis, membaca pun menjadi pantangan.  Hal inilah yang sedang terjadi di negeri tercinta ini, khususnya dalam dunia pendidikan.
       Ketika kita menghendaki pandai berenang, mengemudi, atau bersepeda, tidak cukup hanya belajar "teori" tentang berenang, mengemudi, atau bersepeda.  Kita harus berlatih berenang, mengemudi, atau bersepeda. Iris Murdoch, seorang filsuf dan penulis, mengungkapkan "Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai"!  Menulis adalah tindakan konkret dan praktis.  Agar mampu menulis, seseorang harus menulis.  Hanya dengan menulis kita dapat belajar menulis.  Tanpa melakukannya, kita tidak akan pernah mampu menulis.
       Kemampuan menulis tidak bergantung kepada bakat.  Orang yang tidak berbakat pun bisa menjadi penulis jika ia mau berlatih menulis.  Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, urusan segelintir orang yang mendapat berkah.  Adapun kemampuan menulis diperkenankan bagi siapa pun, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pimpinan atau bawahan.
       Segala aktivitas pasti memliki hambatan dan tantangan, tidak terkecuali menulis.  Mulailah dengan menulis secara bebas!  Peter Elbow, Direktur Program Menulis di University of Massachusetts, berpendapat bahwa dengan "menulis bebas", orang dapat mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis.  Tuliskanlah apa pun yang terlintas di benak kita.  Dalam latihan ini, kita disarankan untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, apa pun yang kita pikirkan, termasuk ketidakmampuan kita dalam menulis.
       Belajarlah menulis sejak dini dengan membiasakan mengisi buku harian.  Dalam sebuah institusi pendidikan, proses berlatih menulis dapat kita kembangkan melalui majalah dinding, buletin, jurnal, majalah internal, atau surat kabar komunitas.  Dalam era kesejagatan ini kita harus memulai mencintai manfaat positif internet.  Melalui situs dan blog, kita dapat mengembangkan tulisan yang go public.  Apalagi dalam dunia pendidikan saat ini, guru dituntut untuk mulai mencintai kegiatan tulis-menulis, dengan keberadaan e-book.  Marilah kita ubah dunia ke arah yang lebih beradab dan manusiawi...!!


Oleh Kusnadi Khidhir, S.Pd.