Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah tidak
hanya berupa kegiatan di dalam kelas. Kegiatan di luar pelajaran sehari-hari
pun dapat dilaksanakan, salah satunya dengan kegiatan siswa ekstrakurikuler. Bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilakukan
adalah kegiatan olah raga dan seni. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang
sesuai dengan jiwa parasiswa sebagai remaja. Oleh sebab itu, kami selaku pengurus
OSIS bermaksud mengadakan kegiatan “Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI)” dengan
tema “BRILIANT” ( Bebas berkreasi melalui Olahraga seni dan teknologi )
Bukit Jambul Bali
Telkomsel Kendari Baubau Rusman dkk.
Lebaran Idul Fitri 2012 di Baubau Sultra
Eureka Try Zaraz Wanty R. Laega, Aal Algebra R Laega, Algibran Zaid R. Laega.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2014
Dihadiri Kadis Dinas Sosial Transmigrasi dan Tenaga Kerja Bapak Drs. H. La ode Zulkifli dan Ibu.
Muhammad Radi, S.Pd, MM.Pd di Seoul Korea Selatan
Program Wali Kota Baubau Drs.Amirul Tamim, M.Si. Belajar Bahasa Korea dan Cia-cia di Seoul Korea Selatan
Serah Terima Jabatan Ka.SMA N 2 Baubau
Dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Baubau Drs. H. Masri, M.Pd.Sekretaris, Kabid, Kasi, Kepala SMA/SMK, Korwas dan semua guru SMA N 2 Baubau, Bu Rahama, S.Pd,
Rabu, 19 Desember 2012
Kamis, 13 Desember 2012
Kisi-kisi UN 2013
06.56
No comments
Download Kisi-Kisi UN 2013 SMA SMP
Haloo...kawan ... Terima kasih telah
berkunjung ke Blog Kesiswaan SMA Negeri 1 Baubau. Bagaimana kabar sahabat
sekalian? Baik-baik saja kan?! Tetap semangat menjalani hari-hari yang mulai
dipenuhi dengan kesibukan. Apalagi yang dah kelas XII SMA/ MA. Mesti mulai belajar giat untuk
menemukan pola belajar yang tepat dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian
nasional. Apalagi menurut berita ada 20 paket soal tiap mata Pelajaran. Saya
doakan semoga kalian semua lulus Ujian Nasional 2013. Amin.....
Senin, 10 Desember 2012
Cerpen Pernak Pernik Taman Semerbak
PERNAK PERNIK TAMAN SEMERBAK
OLEH: Febrianti Hany Pratiwi
Sang mentari
perlahan keluar dari
singgah sanahnya, menyinari seluruh penjuru bumi
semerbak Baubau. Salah
satu kota di
Sulawesi Tenggara yang
banyak menyimpan sejuta
keanekaragaman, baik budaya
maupun gaya hidup
masyarakatnya yang masih
teguh menggenggam erat
adat istiadat. Kemilau
cahaya yang dikeluarkan
kota ini membuat
Santi terpukau hingga
mengarahkan kedua kakinya
untuk menjelajahi kota yang
terkenal dengan lambang
buah nanas serta
naganya tersebut. Santi
adalah seorang gadis
muda yang memiliki
jiwa petualang serta
rasa ingin tahu yang tinggi,
berbekal itu semua ia pun
memulai perjalanannya dari Jakarta tempat
ia tinggal menuju
Kota Baubau yang
merupakan santapan hangat
bagi jiwa petualangnya.
“Aku sudah
tak sabar untuk
melihat kota yang
disebut Baubau itu”.
Ucapnya dalam hati ketika menaiki
pesawat yang akan
membawanya ke kota
itu.
Setelah beberapa
jam Santi berkelut
dengan hatinya yang
penasaran selama menempuh
perjalanan yang cukup
jauh, akhirnya semua
itu terbalas ketika Santi
menginjakkan kakinya di
bandara Betoambari Baubau.
“Astaga, inikah
yang disebut bandara?”.
Pikirnya dalam hati
ketika melihat suasana
bandara yang sangat
jauh berbeda dengan
bandara yang sering
ia jumpai. Belaian
angin sepoi-sepoi menenangkan
pikirannya yang tengah
kelelahan akibat perjalanan
yang baru saja
ia lalui.
Berbekal alamat
adik ayahnya yang
kebetulan tinggal di
kota itu, ia
pun melangkahkan kakinya
untuk mencari alamat
tersebut.
“Pak tahu
alamat ini nggak”.
Sapanya pada tukang
ojek yang ia
temui saat keluar
dari bandara.
“Oh, iya
kayaknya saya tahu
alamat ini ee,
mau saya antar
ke sana dek?”.
Jawab tukang ojek
itu dengan ramah
serta nada suara yang
masih aneh terdengar
di telinga Santi.
“Ok Pak,
aku dianterin ke
alamat ini ya?”.
Kata Santi sembari
tersenyum.
Selama perjalanan
menuju rumah keluarganya
dengan menaiki ojek,
Santi sangat menikmati
hidangan berupa panorama
alam yang terdapat
di Kota Baubau,
pepohonan langsung menyambutnya
ketika keluar dari
gerbang bandara.
“Hm…. mana ada yang
kayak gini aku
dapat di tempat
tinggalku, barusan keluar
dari bandara aja
udah linglung liatin
tumpukan kendaraan, beda
banget sama kondisi
di sini”. Keluhnya
dalam hati.
Tak lama
kemudian perhatian Santi
tertuju pada kokohnya
benteng yang ia
lihat saat perjalanan.
“Pak, itu
benteng apa ya?
Kok gede banget ,
panjang lagi”. Tanya
Santi kepada tukang
ojek yang sedang
bersamanya.
“Oh, itu
benteng Keraton namanya
dek, alamat yang
kita tuju itu
letaknya di daerah
Keraton yang ada
di atas sana”.
Jawab tukang ojek
tersebut sambil menunjuk
arah pendakian menuju
Keraton.
Sesaat kemudian
sampailah mereka di
tempat tujuan. Kedatangan
Santi disambut hangat
oleh keluarganya, wajarlah
ia adalah keluarga
yang jauh dan
jarang bahkan tak
pernah berkunjung di
rumah mereka.
“Nak, kenapa
kamu tidak memberitahu
kami, kalau kamu
sudah sampai di bandara, kan
bisa om jemput”. Sapa
Pak Hasan, adik
ayah Santi.
“Hehehehe….
nda apa-apa kok
om, lagian aku
udah biasa jalan
sendirian. Kan ada alamat yang
ayah berikan kepada
aku”. Jawab Santi.
Mereka pun melangkah masuk
ke rumah Pak
Hasan, namun langkah
kaki Santi terhenti
sejenak untuk memperhatikan
rumah tersebut. Rumah
yang tak terlalu
besar, namun begitu
unik di mata
Santi, rumah yang
memiliki kolong, serta
terbuat dari kayu.
“Om kok
dari tadi aku
perhatiin di daerah
sini semua rumah
bentuknya sama ya,
ada kolongnya, hehehehe..”.
ucap Santi saat
memperhatikan rumah omnya
tersebut.
“Kamu itu
kelamaan di kota
San, ini adalah
rumah adat di Baubau. Namanya
rumah Malige atau
masyarakat di sini
biasa menyebutnya rumah
panggung San”. Jawab
pak Hasan dengan
ramahnya.
“Oh, gitu
ya om. Tapi tadi
sebelum masuk daerah
Keraton, semua rumah
yang aku temui
bentuknya udah pada
modern semua”. Tanya
Santi, penasaran.
“Itu karena
cuma di Keraton
ini yang masih
menjaga kebudayaan San,
tapi ada juga
rumah selain di Keraton yang
masih memakai model
rumah adat ini,
cuma mungkin kamu
tidak terlalu memperhatikan
dengan baik”. Jawab
Pak Hasan dengan
penuh kesabaran, wajarlah Santi
adalah gadis yang
bisa dibilang cerewet
dan selalu ingin
tahu.
Cahaya rambulan
kini menyelimuti kesunyian
rumah tempat Santi
menginap.
“Nak, mai
mo ta kande”.
Ajak nenek Santi,
yang kebetulan memakai
bahasa daerah, yang
disebut bahasa Wolio.
“Apa
nek? Aku
nggak ngerti”. Jawab
Santi dengan wajah
yang kebingungan.
“Mari mi
makan, itu yang
coba nenek ucapkan”.
Sahut Randi, anak
tunggal dari Pak
Hasan.
“Wee…
ana mai
mo kaasi ee!!!”.
Teriak si nenek.
“Ayo kita
pergi makan, nenek
sudah mengomel itu”.
Ajak Randi, sambil
menarik tangan Santi,
yang masih kebingungan
dengan bahasa yang
digunakan si nenek.
Hidangan istimewa
telah tersedia di atas meja. Namun,
Santi masih duduk
dengan hati penasaran
akan makanan yang
masih asing di
matanya.
“Om, itu
yang bentuknya seperti
kerucut namanya apa ya?”. Tanya
Santi, sembari menunjuk
salah satu makanan
yang ada di hadapannya.
“Oh, itu
namanya kasuami San, salah
satu makanan khas
di Baubau, yang
terbuat dari ubi”.
Jawab pak Hasan.
“Wah, enak
ya om”. Ucap
Santi sambil melahap
makanan itu.
“Nak, ini
juga tidak kalah
enak. Makanan ini
namanya manu nasu wolio artinya ayam
masak wolio”. Ucap
Pak Hasan , sembari
memberikan Santi sepotong
ayam khas Buton
itu.
“Iya om,
makanan tradisional di
sini enak-enak ya om”. Jawab
Santi sambil tersenyum.
“Boli marobo
kaasi ee, so
kande mo adhi”.
Cetus si nenek,
lagi-lagi bahasa asing
itu terdengar, membuat
penasaran telinga Santi
akan arti di
balik setiap kata
itu. Namun, Santi
tidak berani menanyakannya
sebab dari intonasi
si nenek, Santi
tahu itu merupakan
sebuah teguran.
Makanan malam
itu di santap
mereka tanpa meninggalkan
bekas, malam semakin
larut. Namun, suara
canda tawa Santi
dan Randi masih
terdengar hingga memecah
keheningan di setiap
sudut rumah yang
dulunya bagaikan tak
berpenghuni, maklumlah rumah
itu hanya dihuni
oleh pak Hasan,
nenek serta Randi.
“Kolemo kaasi
ana-ana ee, malomo
siy”. Ucap nenek,
menghentikan obrolan Santi dan Randi.
Tanpa pikir
panjang lagi Randi
langsung menyuruh Santi
segera ke kamarnya
untuk beristrahat. Malam
itu pun berlalu
dengan cepatnya.
Suara merdu
ayam, bagaikan alarm
alam yang berbunyi,
berdengung di telinga
Santi dan membuat
matanya terbuka lebar.
Pada pagi yang
cerah itu, Santi
dan Randi meminta
izin untuk berjalan-jalan di sekeliling Keraton.
“Om, bolehkan
Randi menemaniku untuk
melihat benteng –benteng di
luar sana?”. Pinta
Santi kepada Pak
Hasan yang saat
itu sedang asyik
bercengkrama dengan koran
di tangannya.
“Oh, silakan
nak. Ran kamu
jaga Santi ya,
jangan pulang kesiangan.
Ceritakan pula semua
yang kamu tahu
tentang daerah kita ini kepada
Santi”. Ucap Pak
Hasan, sembari memberi
amanat kepada Randi.
“Oke
bapak”.
Jawab Randi dengan
tegas.
Santi dan
Randi pun berkeliling
melihat suasana benteng
Keraton yang masih
diselimuti embun pagi.
“San, benteng
di Baubau ini
adalah benteng terpanjang
di dunia. Benteng
ini sudah berdiri
dari zaman penjajahan
dulu dan masih
bertahan sampai saat
ini, walaupun ada
juga yang pernah
mengalami perbaikan. Setiap
batu di benteng
ini konon saling
direkatkan menggunakan putih
telur, San”. Tutur
Randi panjang lebar,
meniru gaya pemandu
wisata.
“Wah buanyak
banget Ran, lalu
kuning telurnya dikemanakan
dong”. Jawab Santi,
sembari tertawa cekikikan.
“Aduh kamu
ini diberitahu, tapi malah
dijadikan bahan tertawaan”.
Timpa Randi
Setiap detik
bagaikan sebuah permata
yang sangat berharga
bagi Santi, ia
begitu dimanjakan dengan
semua yang terdapat
di daerah yang
merupakan kawasan benteng
terpanjang di dunia
itu. Santi pun
sangat terpukau dengan
salah satu masjid
tertua yang ada
di sana yaitu
masjid Agung Keraton,
ada pula tiang
bendera dari kayu
yang masih berdiri
kokoh, walaupun tiang
tersebut kelihatan rapuh
serta hampir roboh.
Sebelum menjadi kota
Baubau dan menganut
sistem pemerintahan demokrasi,
dahulu Buton menganut
sistem monarki, yaitu
pada masa kesultanan.
Seluruh kegiatan kesultanan
Buton terpusat dalam
Keraton. Sebelum bergabung
dengan NKRI, Buton
telah menjadi Negara
yang berdiri sendiri,
bahkan Buton memiliki
UU yaitu Martabat
Tujuh serta bendera
yang disebut longa-longa,
Buton pun memiliki
mata uang sendiri
yaitu kampua. Buton
bergabung dengan NKRI pada tahun
1959, yaitu saat
Sultan Buton ke- 38
dipanggil oleh IR.Soekarno
di Makassar untuk
meminta Buton agar
mau bergabung dengan
NKRI, sehingga masa
kesultanan di Buton
pun berakhir.
Di
sekitar masjid Agung
Keraton terdapat beberapa
benda peninggalan dari
masa lalu, yang
masih dapat disaksikan
hingga sekarang, salah
satunya yaitu Batu
Popaua, batu ini
berbentuk lubang yang
cukup besar, konon
batu ini merupakan pijakan
kaki dari Raja
pertama Buton yaitu
Wakaaka, kaki dari
Wakaaka dapat membentuk
batu tersebut, hal
ini diakibatkan oleh
kekuatan yang sangat
dahsyat dari sang
Raja. Batu Popaua
digunakan saat pelantikan
Sultan, kaki dari
calon Sultan dimasukkan
ke dalam batu
tersebut. Di samping
batu tersebut terdapat
pula Baruga, yaitu
suatu tempat yang
digunakan untuk mengadakan
kegiatan. Dari masjid
Keraton pun kita
dapat melihat dengan
jelas satu-satunya kuburan
yang menurut Santi
sangat unik.
“Ran, itu
kuburan siapa?”. Tanya
Santi, sambil menunjuk
letak kuburan itu.
“Oh, itu
kuburan Sultan Murhum
San, ia adalah
Sultan pertama di
Buton. Ia adalah
orang yang berjasa
San, dahulu ia
pernah melawan seorang
bajak laut bermata
satu yang datang ke
Buton, bajak laut
itu bernama La
Bolontio, ia ingin
menguasai Buton, San. Namun,
untunglah ada Lakilaponto
yaitu nama dari
Sultan Murhum, ia
melawan bajak laut
itu menggunakan taktik , San.
Mereka bertarung di
pinggir pantai, sehinnga
Lakilaponto memanfaatkan pasir
yang ada di
sekitarnya untuk melawan
La Bolontio, dalam
keadaan terdesak akhirnya
Lakilaponto melemparkan segenggam
pasir di mata
La Bolontio sehingga
ia tidak bisa
melihat, saat itulah
Lakilaponto menghabisi nyawa
La Bolontio, San.
“Wah, hebat
sekali Sultan Murhum
itu ya. Tapi
kok namanya ada dua Ran?”
Tanya Santi.
“Sebenarnya nama
Sultan itu adalah
Lakilaponto San, namun
setelah ia meninggal
namanya lebih dikenal
dengan Murhum, itu
adalah sebutan bagi
orang yang sudah
meninggal, kalau yang
sering kita dengar
itu adalah Almarhum, San”. Jawab
Randi.
Tak terasa
sang raja siang
semakin jauh meninggalkan
singgah sanahnya, hingga
membuat rasa panas
menerobos masuk dalam
tubuh Santi dan
Randi. Mereka pun
memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah,
si nenek sedang
asyik membuat makanan.
“Nek, semua
makanan ini untuk
apa?”. Tanya Santi
kepada nenek yang
saat itu sedang
menggoreng pisang.
“Ini untuk
haroa sebentar malam
nak”. Jawab nenek,
untunglah kali ini
nenek menggunakan bahasa
Indonesia, sehingga Santi
tidak kebingungan lagi.
“Haroa itu
apa nek?”. Santi
kembali melontarkan pertanyaan
“Haroa itu
adalah salah satu
budaya yang ada
sejak dulu di
Baubau nak, dan
masih dilestarikan sampai
sekarang. Fungsi haroa
itu untuk mengenang
para arwah ataupun
menghormati mereka”. Jawab
nenek.
Satu lagi
bukti bahwa masyarakat
Baubau sangat menjaga
hubungan dengan masa
lalu, yaitu budaya
yang terus mereka
lestarikan. Mereka pun
sangat menghormati para
leluhur , serta budaya
dijadikan mereka sebagai
gaya hidup yang
terus bertahan ditengah
besarnya arus globalisasi.
Kalimat itu terpahat
dengan sendirinya dalam
pemikiran Santi, ia begitu
terpukau dengan kebiasaan
yang dilakukan masyarakat
Baubau.
Saat haroa
pun tiba, rumah
kediaman mereka dipenuhi
oleh para tetangga
maupun kerabat. Hidangan
tradisional tersusun rapi
di setiap talang,
dengan gaya penyajiannya
pun yang unik,
seperti ayam yang
ditaruh di dalam
gelas serta jumlah
kue tradisional yang
telah ditentukan , semua
itu sangat berbeda
dengan cara penyajian
yang selalu dilihat
Santi. Salah seorang
tokoh adat dipanggil
untuk memimpin haroa,
setelah pembacaan beberapa
doa maka sajian
yang telah tersedia
dapat disantap bersama,
keakraban terpancar terang
dalam ruangan kecil
itu. Haroa ternyata
dijadikan ajang mempererat
tali silahturahmi, sungguh
pemandangan yang langkah
bagi Santi. Jiwa
Santi semakin penasaran
dengan budaya yang
ada di Baubau.
“Om, selain
haroa ada budaya
lain nggak yang
dilestarikan di Baubau ?”.
Tanya Santi kepada
Pak Hasan yang
sedang duduk santai.
“Ada nak,
salah satunya adalah
posuo. Posuo
sama seperti pingitan
nak, namun jika
pingitan di daerah
lain dilakukan setelah
menginjak dewasa, berbeda
dengan di sini
nak, kalau di
sini posuo wajibnya
dilakukan saat akan
menikah, tapi posuo
juga bias dilakukan
saat telah menginjak
dewasa. Posuo dilakukan
oleh para gadis,
mereka dikurung dalam
jangka waktu yang
telah ditentukan dan
melakukan beberapa ritual
nak”. Jawab Pak
Hasan
“Lalu bisakah
om sedikit menceritakan
aku tentang gaya
hidup serta sikap
dari para masyarakat
di Baubau?”. Tanya
Santi yang semakin
penasaran.
“Begini nak,
umumnya masyarakat Baubau, ataupun Buton
memegang salah satu
falsafah buton yaitu pobinci-binci ki
kuli, yang artinya
saling mencubit diri
sendiri. Maksudnya sebelum
kita melakukan sesuatu
kepada orang lain
kita harus merasakan
dulu apa akibat
dari hal yang
kita lakukan itu,
masyarakat Buton mengumpamakannya dengan
mencubit diri sendiri,
apabila kita merasakan
sakit saat dicubit,
maka kita tidak
boleh mencubit orang
lain. Sejarah dari
masa lalu merupakan
pedoman gaya hidup
masyarakat Baubau pada
umumnya nak, walaupun
beberapa budaya ada
yang sedikit bergeser
akibat arus zaman
yang semakin maju”.
Jelas pak Hasan.
“Aku semakin
kagum deh dengan
sikap masyarakat di
sini om”. Ucap
Santi, menanggapi penjelasan
omnya tersebut.
Tak terasa
sudah seminggu, Santi
menjalani hari-hari istimewanya
di Baubau, hampir
seluruh tempat wisata
ia datangi bersama
Randi. Bahkan Santi
telah banyak belajar
bahasa daerah di
Baubau yaitu bahasa
Wolio dari neneknya,
bahasa yang dulunya
sangat asing di
telinganya kini telah
ia pergunakan untuk
berbicara, walaupun belum
sepenuhnya lancar.
“Ran, nanti
kalau aku pulang
ke Jakarta , aku
akan menceritakan kisahku
saat berdiri di
hadapan naga yang
sangat ganas loh. Hehehehe”. Ucap
Santi kepada Randi,
mengenang saat
ia berjalan-jalan di
Pantai Kamali, tempat
patung naga kebanggaan
Kota Baubau berada.
“Hehehe..
iya. Terus jangan
lupa juga sama
ekornya ya”. Jawab
Randi, mengingatkan Santi
kembali saat ia
berkunjung ke Palagimata,
tempat ekor naga
tersebut.
Mitos
tentang naga itu
yang digambarkan dalam
patung sangat membekas
dalam ingatan Santi,
apalagi penempatan kepala
dan ekor naga
tersebut sangat unik,
seakan-akan naga tersebut
menerobos masuk ke
dalam tanah. Ekor
naga terdapat pada
dataran tinggi sedangkan
kepalanya muncul di
daratan rendah berdekatan
dengan laut. Tak
terbayang begitu panjangnya
naga tersebut.
Di hari
terakhirnya berada di
Baubau, Santi menyempatkan
diri untuk membuat
waje bersama neneknya.
Waje adalah salah
satu kue tradisional
di Baubau dan masih
sering di konsumsi
oleh masyarakatnya.
“Nek, waje
ini boleh Santi
bawah ke Jakarta,
sebagai oleh-oleh kan?”.
Tanya Santi kepada
nenek yang sedang
mengaduk waje.
“Umbe adhi
ana”. Jawab nenek
dengan singkat.
Santi pun
tersenyum, ia tak
lagi kebingungan dengan
bahasa itu, setidaknya
sedikit demi sedikit
ia sudah dapat
mengetahui artinya. Santi
sangat semangat membuat
waje hingga ia
lupa akan waktu
keberangkatannya.
“San kamu
belum siap-siap kah?
Setengah jam lagi
kamu sudah harus
ada di bandara
kan?”. Ucap pak Hasan
saat melihat Santi
masih asyik membuat
waje.
“Astaga….
iya om,
aku segera siap-siap”.
Jawab Santi sambil
terburu-buru menuju kamarnya.
Waktu yang
begitu singkat baginya
untuk menjelajahi Kota
Baubau, namun ia
tetap merasa bangga
karena telah menginjakkan
kaki di Kota
tersebut. Kota yang
menyimpan begitu banyak
kebudayaan yang tak
pernah lekang oleh
waktu, setiap budaya
tersebut bagaikan pernak
pernik yang memukau
setiap pandangan, melekat erat
dalam Kota tersebut.
Sunguh taman semerbak
yang menyebarkan keharuman
di setiap belahan
bumi. Ditambah lagi
dengan penataan Kota
yang sangat cantik
serta modern yang menyatu dengan
budaya, sungguh sebuah
kota idaman.
Santi pun
melangkahkan kaki untuk
pulang ke tempat
tinggalnya, membawa segudang
kenangan dari Kota
Baubau, sambil memegang
kotak yang berisi
waje dari si
nenek, Santi pun
berlalu menuju bandara.
Pak Hasan, nenek
serta Randi pasti
akan merindukan sosok
Santi, seorang gadis
pemberani, yang haus
akan pengetahuan.
“Mbuli yaku
ee”. Ucap Santi
saat di dalam
taksi, sambil melambaikan
tangan kepada keluarganya
itu.
“kota ini
telah membuka mata
aku, tentang betapa
pentingnya suatu kebudayaan
dalam suatu wilayah,
tanpa budaya tersebut
kota itu bagaikan
mencoba berjalan dengan
satu kaki”. Itulah
kalimat yang terucap
saat Santi berada
di pesawat dan
untuk terakhir kalinya
melihat wajah Kota
Baubau dari ketinggian,
yang seakan-akan tersenyum
padanya.
OLEH: Febrianti Hany Pratiwi
SMA
NEGERI 1 BAUBAU KELAS XI IPA NGGULAN 1 TAHUN 2012
Cerpen KAU TERBARING DI TANAH BUTON
Cerpen KAU TERBARING DI TANAH BUTON
Karya: Arman Maulana
Hari ini adalah hari pertama ku di
pulau Buton, tepatnya di Kota Baubau, sebuah pulau kecil di sebelah Tenggara
Sulawesi, pulau yang memiliki sumber daya yang melinpah karena merupakan salah
satu penghasil Aspal di Indonesia, dan juga merupakan tempat berdirinya benteng
terluas di dunia, yang mcnurut sejarah, menggunakan putih telur sebagai pengganti
semen dalam pernbuatannya. Sungguh, suatu yang sangat menakjubkan yang tidak
dapat di percaya namun merupakan sebuah kenyataan.
Aku
datang kesini karena orang tua ku mendapatkan proyek di luar kota, dan karena
aku tidak memiliki keuarga di Makassar, maka aku datang ke sini, dan tinggal di
Baadia, suatu wilayah dalam benteng
keraton. Di sini aku tinggal bersama bibi, paman serta kakak sepupu ku, di
scbuah rumah tradisional sederhana, namun bagiku sangat luar biasa. Tanpa ada
kursi maupun meja yang menurutku melarnbangkan kesederhanaan, namun memiliki
seribu makna.
Waktu
menimjukan pukul 0430 WITA, saat dunia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Sunyi...sunyi...sunyi
senyap tak ada suatu suara pun yang terdengar.
“ALLAAIIU AKBAR...
ALLAHU AKBAR”
Suara
azan subuh memecahkan keheningan subuh itu, namun aku masih terbuai dalam
rayuan mimpi indah ku sendiri.
“ASHSHALAATUL
KFIAIRUM MINAN NA UMI”
Lafal
azan itu tantas membangkinkan diriku walaupun mata ini rnasih ingin terpenjam
untuk sesaat saja, narnun aku harus melawannya. Karena aku tidak tahu letak
rnasjìdnya, sehingga kubangunkan kak Anton, kakak sepupuku untuk mengantar ku.
Tidak
lama kemudian, sampailah kami di sebuah masjid, masjid yang memiliki arsitektur
yang sangat berbeda dengan masjid-maiid lainnya, karena mesjid ini tidak
terbuat dan beton, mela.inkan terbuat dan kayu, dengan bentuk yang sederhana, namun
tetap terlihat megah, sungguh mesjid yang mencerminkan kejayaan Islam tempo dulu.
terbuat dan beton, mela.inkan terbuat dan kayu, dengan bentuk yang sederhana, namun
tetap terlihat megah, sungguh mesjid yang mencerminkan kejayaan Islam tempo dulu.
“kak Anto apa namanya masjid ini..?”
“oh,
ini namanya
Masjid Agung
Keraton.”
“ohh... maslld
agung keraton, patitas saja beda. dengan yang lain.”
Kulangkahkan
kaki kanan ku saat masuk ke dahim nieiid.Aku kagum terhadap masyarakat Buton
karena meskipun udaranya sedingin ini namun banyak orang tetap memenuhi
panggilan azan.
Suara
iqamah pun di kumandangkan, segeralah kami mengerjakan sholat.
“ALLAHU AKBAR” suara takbir terdengar dan imam. Alunan
ayat-ayat AI
Quran yang indah, seakan membuatku terbang ke dimensi surga tak pernah kurasakan momen seperti ini sebelurnnYa. Aloi tak tahu mengapa seakan aku lebih dekat kepada
sang Rabbi. Sholat subuh akhirnya selesai dan dari sekian banyak jamaah, ternyata
terdapat seorang yang sebaya dengan ku yang duduk di pojok sana.
Quran yang indah, seakan membuatku terbang ke dimensi surga tak pernah kurasakan momen seperti ini sebelurnnYa. Aloi tak tahu mengapa seakan aku lebih dekat kepada
sang Rabbi. Sholat subuh akhirnya selesai dan dari sekian banyak jamaah, ternyata
terdapat seorang yang sebaya dengan ku yang duduk di pojok sana.
Setelah
sholat, kuberanjak pergi dari rnesjid itu. Di sebuah tempat seperti
benteng. Aku duduk sambil menunggu sang mentari keluar dan peraduannya.
“Assalamu Alaikum.” terdengar suara seseorang menuju kepadaku. “Wa alaikum salam.” ku menjawab salam tersebut saat sumber suara itu tepat berada di depan ku. ternyata itu adalah suara anak yang aku, ternyata di masjid tadi. “yingko ana-ana bau yii wesi, minaka yapai yingko syi umba?” ucap anak itu menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti sama sekali.
“apaa maafaku. Tidak mengerti, apa bisa pakai bahasa Indonesia?” ucap ku sambil
menggaruk kepala. “maaf yah, aku kira kamu tahu bahasa Wolio.” ucap anak itu
“bahasa Wolio?? Apa bahasa Wolio itu bahasa daerah di sini ?“ ucap ku lagi “ya, bahasa Wolio rnerupakan bahasa daerah di sini yang dulu masyarakat buton menggunakan ini bahasa nasional.
benteng. Aku duduk sambil menunggu sang mentari keluar dan peraduannya.
“Assalamu Alaikum.” terdengar suara seseorang menuju kepadaku. “Wa alaikum salam.” ku menjawab salam tersebut saat sumber suara itu tepat berada di depan ku. ternyata itu adalah suara anak yang aku, ternyata di masjid tadi. “yingko ana-ana bau yii wesi, minaka yapai yingko syi umba?” ucap anak itu menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti sama sekali.
“apaa maafaku. Tidak mengerti, apa bisa pakai bahasa Indonesia?” ucap ku sambil
menggaruk kepala. “maaf yah, aku kira kamu tahu bahasa Wolio.” ucap anak itu
“bahasa Wolio?? Apa bahasa Wolio itu bahasa daerah di sini ?“ ucap ku lagi “ya, bahasa Wolio rnerupakan bahasa daerah di sini yang dulu masyarakat buton menggunakan ini bahasa nasional.
“ohh gitu yah.”
“ehh, kenalin
nama ku Bambang.”, ucap anak itu sambil menyodorkan tangannya, bermaksud untuk
salaman.
“nama ku Bayu.”
balas ku seraya.rnenyodorkan tangan ku juga.
Kami lantas berbincang-bincang tentang tempat asal
ku dan tujuan ku datang ke sini aku kagum dengan masyarakat Buton ini, karena
menggunakan tutur kata yang lembut dan
sopan.
sopan.
Sekarang
genap seminggu aku di sini, aku sudah mempunyai banyak teman. Sore itu takala
angin berhembus diantara pepohonan menggoyangkan ranting dan itu taktkaian
angin berhembus di antara pepohonan, menggoyangkan ranting dan dedaunan, aku
berjalan setapak hendak ke rumah Bambang. Dia pernah menuju rumahnya sekali
pada ku.
Assalamualaikum
Bambang.”, ku ketuk pintu rumahnya yang tidak jauh berbeda dengan rumah bibi
ku, rumah panggung yang terbuat dan kayu.
“wa alaikum
salam, siapa yaah?”jawab anak kecil yang mungkin itu adalah adik
Bambang,
“Bambangnya ada?” tanyaku
Bambang,
“Bambangnya ada?” tanyaku
“kenapa ada kata
La Ode di depan namanya, apa ita memang nama aslinya?” terbesit tanya dalam
benakku.
“Bayu, ayo
masuk’ ucap Bambang dan atas rumalnya. Kami lantas naik dan duduk
melantai di sana, yang orang Buton di sebut paseba.
melantai di sana, yang orang Buton di sebut paseba.
“Bambang aku mau
tanya, nama asli mu itu La Ode Bambang yaah ?” tanya penasaran.
“ohh iya. Itu nama lengkap ku.”
“apa maksudnya La Ode itu?”
“itu dulu merupakan panggilan khusus bagi kaum
kerajaan. Atau biasa di sebut juga sebagai marga, dan tidak semua orang toh
yang bisa pake, penggunaan inisial La Ode ini hanya bisa di gunakan oleh
golongan bangsawan, dan hanya bisa oleh Laki-laki saja, beda dengan sekarang,
tapi tetap, hanya laki-laki yang boleh.” Ujarnya
Tiba-tiba adik bBambang datang membawa pisang goreng
dan teh.
“Makasih yaa dek.” ujar Bambang
“jadi untuk perempuan apa dong ?“ ucap ku lagi.
“kalau perempuan menggunakan insial Wa Ode, sama
hainya dengan La Ode, hanya untuk golongan bangsawan atau gvolongan kerajaan”
sambungnya menjelaskan.
“eh,tapi di sinii nuansa agamanya kental sekali ya,
apa lagi dimesjidnya, iya kan?
“itu karena masyarakat Buton
menempatkan agama di tingkat yang paling atas.”
“maksudnya?” tanyaku
penasaran.
“masyarakat Buton sejak dulu sampai sekarang
memegang teguh falsafah yaitu : Yinda Yindamo arata somanamo karo, yinda
yindamo karo somanamo lipu, yinda yindamo lipu somanamo syara, yinda syara
somanamo agama.”
“apa artinya itu?” tanyaku lebih penasaran lagi.
“Bentar dong Bayu, aku habiskan dulu makananku,
tidak baik kalo makan sambil bicara,
itu juga salah satu adat disini.”
itu juga salah satu adat disini.”
“maaf... maaf aku penasaran bangat sih.”
Bambang lantas menghabiskan makanan yang ada
ditangannya dan mulai menjelaskan
lagi.
“jadi,artinya itu jangankan harta yang penting diri pribadi jangankan diri pribadi yang penting kepentingan kampung, jangankan kepentingan kampung yang penting pemerintahan, dan jangankan pemerintahan yang penting agama. Kau deng-arkan!!!
lagi.
“jadi,artinya itu jangankan harta yang penting diri pribadi jangankan diri pribadi yang penting kepentingan kampung, jangankan kepentingan kampung yang penting pemerintahan, dan jangankan pemerintahan yang penting agama. Kau deng-arkan!!!
bahwa agama ditempatkan di tempat yang paling tinggi
itulah mengapa di sini nuansa agamanya kental sekali, dan banyak aturan-aturan
atau larangan-larangan yang dlsebut
pamali.”
“oh.... Jadi gitu yah, pantas saja salah satu filsafat tadi ada di depan pelabuhan, ketika aku pertama kali datang kesini.”
pamali.”
“oh.... Jadi gitu yah, pantas saja salah satu filsafat tadi ada di depan pelabuhan, ketika aku pertama kali datang kesini.”
“Oh,
Bolimo Karo Somanamo Lipu yah!”
“Yups,
betul,
dan sekarang aku tahu apa
artinya.”
“Eh Bambang, aku mau nanya lagi.”
“Apa lagi, aku siap kok untuk menjawabnya, inikan
tugasku juga sebagai masyarakat Buton untuk menjelaskan kepada setiap orang
yang ingin mengetahui tentang seluk beluk Buton” ujarnya penuh semangat.
‘Dipelabuhan kan. ada sebuah patung yang berwarna
emas, itu patung siapa, dan apa maksudnya???”
“Oh. itu yah, itu patung Sultan Murhum dia merupakan raja ke-6 dan merupakan sultan
pertama di pulau Buton dan rnaksud dan patung itu, selain untuk menghorrnati sultan
juga sebagai pertanda ucapan salam kepada semua orang yang datang atau pergì dan pulau Buton ini.” Kamu mengerti ?”
“Oh. itu yah, itu patung Sultan Murhum dia merupakan raja ke-6 dan merupakan sultan
pertama di pulau Buton dan rnaksud dan patung itu, selain untuk menghorrnati sultan
juga sebagai pertanda ucapan salam kepada semua orang yang datang atau pergì dan pulau Buton ini.” Kamu mengerti ?”
“ya aku mengerti.”
Rasa penasaranku akhirnya sedikit terpenuhi namun
masih banyak hal lainnya ingin ku tanyakan tapi, ku rasa sekarang tak akan
cukup waktunya.
Kami melanjutkan menyantap gorengan dan minuman teh
yang telah dibawakan oleh
adik bambang.
adik bambang.
“sebenarnya aku ingin mengetahuì lebih banyak lãgi
tentang Buton tetapi sepertinya untuk saat ini tak akan mencukupi.” ucapku
sambil rnenurunkan gelas berisi teh
“wah bagus itu, aku... aku berjanji, aku akan
menjelaskan apapun yang kamu tanya
tentang Buton ini.”
“baiklah, aku akan pegang janjimu itu, dan kau harus
menjelaskan apapun yang ingin aku tahu apabila kau mengetahuinya juga.”
Kami lantas rnenghabiskan makanan
dan minuman tadi. Suasana sekarang sepi, sepi bagai tak ada seoraug pun di
sana. Mentari pun kembali keperaduannya, seakan telah siap untuk menutup
lembaran hari ini.
“kau tau bayu.” Suara bambang membelah kesunyian
itu.
“Tau apa.”
“ada satu hal yang ingin ku lakukan,aku sangat ingin
membawa nama pulau ku ini, nama pulau Buton, terutama keraton ini ke rancan
internasional, aku ingin nama tahu bahwa di pulau ini, di puiaa kecit ini,
terdapat banyak sekali bai yang luar biasa, tapi....tapi....tapi kurasa aku
tidak akan bisa melakukannya.” tak kusangka Bambang ternyata menitihkan air
matanya.
“apa yang terjadi
aku mencoba meretas hatinya dengan pertanyaan itu.
“tidak,aku tak apa-apa .”
“mana mungkin tidak apa-apa,
ayo kata.......”
“Bayu,” suaranya memotong
pernbicaraanku.
“Bayu, aku ingin kau juga memikirkan yang sama
denganku, aku ingin kan dapat berjanji padaku, apabila aku tak bisa mewujudkan
impianku ini aku ingin kau yang
menggatiannya-” ucapnya sambil berlari menuju
kamarnya.
Keesokan harinya aku harus kembali
ke rnakassar. Dan setahun berlalu sejak kunjungari ku ke Buton. Aku kemudian
memutuskan untuk tinggal di sana karena aku
ingin mempelajari kebudayaan Buton lebih dalam lagi, dan juga aku ingin bertemu
Barnbang, dan aku penasaran,rnengapa dia pergi saat itu. Senin 07.00 WITA, saat aku tiba
di pulau Buton untuk yang kedua kalinya. Setelah istrahat di rurnah Bibi, aku lantas pergi ke rumah Bambang dengan perasaan senang, “Assalamualaikum, Bambang” ku teriak memanggilnya
“Wa alaikum salam.” ucap seorang ibu yang merupakan ibu dan Bambang.
ingin mempelajari kebudayaan Buton lebih dalam lagi, dan juga aku ingin bertemu
Barnbang, dan aku penasaran,rnengapa dia pergi saat itu. Senin 07.00 WITA, saat aku tiba
di pulau Buton untuk yang kedua kalinya. Setelah istrahat di rurnah Bibi, aku lantas pergi ke rumah Bambang dengan perasaan senang, “Assalamualaikum, Bambang” ku teriak memanggilnya
“Wa alaikum salam.” ucap seorang ibu yang merupakan ibu dan Bambang.
“Tante, Bambangnya ada..?”
“apa, Bambang..?”
“iya, Bambangnya ada gak, aku ingin ketemu dia, sudah
lama terasa tidak berternu.” Ucapku pada
tak kusangka tetesan air mata membasahi pipi ibunda Bambang aku tak mengerti apa yang terjadi
tak kusangka tetesan air mata membasahi pipi ibunda Bambang aku tak mengerti apa yang terjadi
“Tante kenapa..? APa ada hal yang salah” lanjutku
kembali
“Bambang... Bambang.... Bambang hiks...sudah tidak
ada di dunia ini lagi.”
Tangisan ibunda bambang sudah tak bisa di bendung lagi.
“apa....
apa maksud tante..?” tanya ku tak mengerti
“Bambang... Bambang sudah meninggal nak Bayu, dia
sudah meninggal.”
Sekarang tangisannya semakin menjadi-jadi
“tidaak ...tidaak mungkin... tidaak mungkin !”
aliran hangat sekektika mengarak surga di antara kedua netraku.
“Ibu Bambang lantas masuk ke dalam rumah dan keluar
membawa sebuah amplop.
“ini adalah pemberian terakhir Bambang, ini
ditujukan untukmu.” ucap ibu Bambang
seraya menyerahkan surat itu padaku.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.” tutur
pertama dalam surat itu.
“Kalau kan membaca surat ini, artinya aku sudah tidak
ada di dunia ini. Maaf. maaf.., aku
tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjelaskan apa pun yang kau tanyakan padaku, karena aku telah dipanggil oleh sang Kholik. Aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan waktu ku akan segerah berakhir. Ingatkan apa harapan terakhir ku ? Kuharap kau masih mengingatnya ya, aku ingin membawa nama Buton di mata dunia, namun sepertinya aku tak bisa mewujudkannya, aku ingin kau yang dapat menggantikan ku dalam memenuhi impian ku ini ... haah,,, kurasa sampai disini suratku, aku harus pergi bertemu sang Kholik, sang pemilik hidup dan mati ku. Sampai jumpa lagi di surga Sahabatku, sampai jumpa, Wassalam.”
tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjelaskan apa pun yang kau tanyakan padaku, karena aku telah dipanggil oleh sang Kholik. Aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan waktu ku akan segerah berakhir. Ingatkan apa harapan terakhir ku ? Kuharap kau masih mengingatnya ya, aku ingin membawa nama Buton di mata dunia, namun sepertinya aku tak bisa mewujudkannya, aku ingin kau yang dapat menggantikan ku dalam memenuhi impian ku ini ... haah,,, kurasa sampai disini suratku, aku harus pergi bertemu sang Kholik, sang pemilik hidup dan mati ku. Sampai jumpa lagi di surga Sahabatku, sampai jumpa, Wassalam.”
Tetesan air mata kku tak bisa ku bendung lagi, aku menangis
sekeras yang aku bisa, tak pedulu dengan keadaan sekitar, aku menangis
sejadi-jadinya.
“aku,. . .akan mewujudkan impianmu itu, dan ini adalah
janji ku pada mu.” ucapku
seraya mencoba umtuk menenangkan hali ku, namun aku
tetap tak bisa menahannya.
Langit sore ini mendung, sangat mendung.kurasa
langit juga larut dalam kesedihan yang kualami sekarang. Matahari pun kembali
ke peraduannya, menutup lembaran hari ini yang sangat buruk bagiku, dan hai ini
adalah hari ke seratus kepergiannya, yang sesuai tradisi maka akan dilaksanakan
suatu acara yang disebut “Haroana Pomaloa”.
Dengan membacakan Surah Yasin, kuhaturkan do’a ku
padanya.
SELESAI
Karya: Arman Maulana
Kelas XII IPA
Unggulan 1 SMA Negeri 1 Baubau
Langganan:
Postingan (Atom)








