Senin, 10 Desember 2012

Cerpen KAU TERBARING DI TANAH BUTON



Karya: Arman Maulana
            Hari ini adalah hari pertama ku di pulau Buton, tepatnya di Kota Baubau, sebuah pulau kecil di sebelah Tenggara Sulawesi, pulau yang memiliki sumber daya yang melinpah karena merupakan salah satu penghasil Aspal di Indonesia, dan juga merupakan tempat berdirinya benteng terluas di dunia, yang mcnurut sejarah, menggunakan putih telur sebagai pengganti semen dalam pernbuatannya. Sungguh, suatu yang sangat menakjubkan yang tidak dapat di percaya namun merupakan sebuah kenyataan.
Aku datang kesini karena orang tua ku mendapatkan proyek di luar kota, dan karena aku tidak memiliki keuarga di Makassar, maka aku datang ke sini, dan tinggal di Baadia,  suatu wilayah dalam benteng keraton. Di sini aku tinggal bersama bibi, paman serta kakak sepupu ku, di scbuah rumah tradisional sederhana, namun bagiku sangat luar biasa. Tanpa ada kursi maupun meja yang menurutku melarnbangkan kesederhanaan, namun memiliki seribu makna.
Waktu menimjukan pukul 0430 WITA, saat dunia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Sunyi...sunyi...sunyi senyap tak ada suatu suara pun yang terdengar.
“ALLAAIIU AKBAR... ALLAHU AKBAR”
Suara azan subuh memecahkan keheningan subuh itu, namun aku masih terbuai dalam rayuan mimpi indah ku sendiri.
“ASHSHALAATUL KFIAIRUM MINAN NA UMI”
Lafal azan itu tantas membangkinkan diriku walaupun mata ini rnasih ingin terpenjam untuk sesaat saja, narnun aku harus melawannya. Karena aku tidak tahu letak rnasjìdnya, sehingga kubangunkan kak Anton, kakak sepupuku untuk mengantar ku.
Tidak lama kemudian, sampailah kami di sebuah masjid, masjid yang memiliki arsitektur yang sangat berbeda dengan masjid-maiid lainnya, karena mesjid ini tidak
terbuat dan beton, mela.inkan terbuat dan kayu, dengan bentuk yang sederhana, namun
tetap terlihat megah, sungguh mesjid yang mencerminkan kejayaan Islam tempo dulu.

“kak Anto apa namanya masjid ini..?”
“oh, ini namanya Masjid Agung Keraton.”
“ohh... maslld agung keraton, patitas saja beda. dengan yang lain.”
Kulangkahkan kaki kanan ku saat masuk ke dahim nieiid.Aku kagum terhadap masyarakat Buton karena meskipun udaranya sedingin ini namun banyak orang tetap memenuhi panggilan azan.
Suara iqamah pun di kumandangkan, segeralah kami mengerjakan sholat.
“ALLAHU AKBAR” suara takbir terdengar dan imam. Alunan ayat-ayat AI
Quran yang indah, seakan membuatku terbang ke dimensi surga tak pernah kurasakan momen seperti ini sebelurnnYa. Aloi tak tahu mengapa seakan aku lebih dekat kepada
sang Rabbi. Sholat subuh akhirnya selesai dan da
ri sekian banyak jamaah, ternyata
terdapat seorang yang sebaya dengan ku yang duduk di pojok sana.
Setelah sholat, kuberanjak pergi dari rnesjid itu. Di sebuah tempat seperti
benteng. Aku duduk sambil menunggu sang mentari keluar dan peraduannya.
“Assalamu Alaikum.” terdengar suara seseorang menuju kepadaku. “Wa alaikum salam.” ku menjawab salam tersebut saat sumber suara itu tepat berada di depan ku. ternyata itu adalah suara anak yang aku, ternyata di masjid tadi. “yingko ana-ana bau yii wesi, minaka yapai yingko syi umba?” ucap anak itu menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti sama sekali.
“apaa maafaku. Tidak mengerti, apa bisa pakai bahasa Indonesia?” ucap ku sambil
menggaruk kepala. “maaf yah, aku kira kamu tahu bahasa Wolio.” ucap anak itu
“bahasa Wolio?? Apa bahasa Wolio itu bahasa daerah di sini ?“ ucap ku lagi “ya, bahasa Wolio rnerupakan bahasa daerah di sini yang dulu masyarakat buton menggunakan ini bahasa nasional.
“ohh gitu yah.”
“ehh, kenalin nama ku Bambang.”, ucap anak itu sambil menyodorkan tangannya, bermaksud untuk salaman.
“nama ku Bayu.” balas ku seraya.rnenyodorkan tangan ku juga.
Kami  lantas berbincang-bincang tentang tempat asal ku dan tujuan ku datang ke sini aku kagum dengan masyarakat Buton ini, karena menggunakan tutur kata yang lembut dan
sopan.
Sekarang genap seminggu aku di sini, aku sudah mempunyai banyak teman. Sore itu takala angin berhembus diantara pepohonan menggoyangkan ranting dan itu taktkaian angin berhembus di antara pepohonan, menggoyangkan ranting dan dedaunan, aku berjalan setapak hendak ke rumah Bambang. Dia pernah menuju rumahnya sekali pada ku.
Assalamualaikum Bambang.”, ku ketuk pintu rumahnya yang tidak jauh berbeda dengan rumah bibi ku, rumah panggung yang terbuat dan kayu.
“wa alaikum salam, siapa yaah?”jawab anak kecil yang mungkin itu adalah adik
Bambang,
“Bambangnya ada?”  tanyaku
“kenapa ada kata La Ode di depan namanya, apa ita memang nama aslinya?” terbesit tanya dalam benakku.
“Bayu, ayo masuk’ ucap Bambang dan atas rumalnya. Kami lantas naik dan duduk
melantai di sana, yang orang Buton di sebut paseba.
“Bambang aku mau tanya, nama asli mu itu La Ode Bambang yaah ?” tanya penasaran.
“ohh iya. Itu nama lengkap ku.”
“apa maksudnya La Ode itu?”
“itu dulu merupakan panggilan khusus bagi kaum kerajaan. Atau biasa di sebut juga sebagai marga, dan tidak semua orang toh yang bisa pake, penggunaan inisial La Ode ini hanya bisa di gunakan oleh golongan bangsawan, dan hanya bisa oleh Laki-laki saja, beda dengan sekarang, tapi tetap, hanya laki-laki yang boleh.” Ujarnya
Tiba-tiba adik bBambang datang membawa pisang goreng dan teh.
“Makasih yaa dek.” ujar Bambang
“jadi untuk perempuan apa dong ?“ ucap ku lagi.
“kalau perempuan menggunakan insial Wa Ode, sama hainya dengan La Ode, hanya untuk golongan bangsawan atau gvolongan kerajaan” sambungnya menjelaskan.
“eh,tapi di sinii nuansa agamanya kental sekali ya, apa lagi dimesjidnya, iya kan?
“itu karena masyarakat Buton menempatkan agama di tingkat yang paling atas.”
“maksudnya?” tanyaku penasaran.
“masyarakat Buton sejak dulu sampai sekarang memegang teguh falsafah yaitu : Yinda Yindamo arata somanamo karo, yinda yindamo karo somanamo lipu, yinda yindamo lipu somanamo syara, yinda syara somanamo agama.”
“apa artinya itu?” tanyaku lebih penasaran lagi.
“Bentar dong Bayu, aku habiskan dulu makananku, tidak baik kalo makan sambil bicara,
itu juga salah satu adat disini.”
“maaf... maaf aku penasaran bangat sih.”
Bambang lantas menghabiskan makanan yang ada ditangannya dan mulai menjelaskan
lagi.
“jadi,artinya itu jangankan harta yang penting diri pribadi jangankan diri pribadi yang penting kepentingan kampung, jangankan kepentingan kampung yang penting pemerintahan, dan jangankan pemerintahan yang penting agama. Kau deng-arkan!!!
bahwa agama ditempatkan di tempat yang paling tinggi itulah mengapa di sini nuansa agamanya kental sekali, dan banyak aturan-aturan atau larangan-larangan yang dlsebut
pamali.”
“oh.... Jadi gitu yah, pantas saja salah satu filsafat tadi ada di depan pelabuhan, ketika aku pertama kali datang kesini.”
“Oh, Bolimo Karo Somanamo Lipu yah!”
“Yups, betul, dan sekarang aku tahu apa artinya.”
“Eh Bambang, aku mau nanya lagi.”
“Apa lagi, aku siap kok untuk menjawabnya, inikan tugasku juga sebagai masyarakat Buton untuk menjelaskan kepada setiap orang yang ingin mengetahui tentang seluk beluk Buton” ujarnya penuh semangat.
‘Dipelabuhan kan. ada sebuah patung yang berwarna emas, itu patung siapa, dan apa maksudnya???”
“Oh. itu yah, itu patung Sultan Murhum dia merupakan raja ke-6 dan merupakan sultan
pertama di pulau Buton dan rnaksud dan patung itu, selain untuk menghorrnati sultan
juga sebagai pertanda ucapan salam kepada semua orang yang datang atau pergì dan pulau Buton ini.” Kamu mengerti ?”
“ya aku mengerti.”
Rasa penasaranku akhirnya sedikit terpenuhi namun masih banyak hal lainnya ingin ku tanyakan tapi, ku rasa sekarang tak akan cukup waktunya.
Kami melanjutkan menyantap gorengan dan minuman teh yang telah dibawakan oleh
adik bambang.
“sebenarnya aku ingin mengetahuì lebih banyak lãgi tentang Buton tetapi sepertinya untuk saat ini tak akan mencukupi.” ucapku sambil rnenurunkan gelas berisi teh
“wah bagus itu, aku... aku berjanji, aku akan menjelaskan apapun yang kamu tanya
tentang Buton ini.”
“baiklah, aku akan pegang janjimu itu, dan kau harus menjelaskan apapun yang ingin aku tahu apabila kau mengetahuinya juga.”
Kami lantas rnenghabiskan makanan dan minuman tadi. Suasana sekarang sepi, sepi bagai tak ada seoraug pun di sana. Mentari pun kembali keperaduannya, seakan telah siap untuk menutup lembaran hari ini.
“kau tau bayu.” Suara bambang membelah kesunyian itu.
“Tau apa.”
“ada satu hal yang ingin ku lakukan,aku sangat ingin membawa nama pulau ku ini, nama pulau Buton, terutama keraton ini ke rancan internasional, aku ingin nama tahu bahwa di pulau ini, di puiaa kecit ini, terdapat banyak sekali bai yang luar biasa, tapi....tapi....tapi kurasa aku tidak akan bisa melakukannya.” tak kusangka Bambang ternyata menitihkan air matanya.
“apa yang terjadi aku mencoba meretas hatinya dengan pertanyaan itu.
“tidak,aku tak apa-apa .”
“mana mungkin tidak apa-apa, ayo kata.......”
“Bayu,” suaranya memotong pernbicaraanku.
“Bayu, aku ingin kau juga memikirkan yang sama denganku, aku ingin kan dapat berjanji padaku, apabila aku tak bisa mewujudkan impianku ini aku ingin kau yang
menggatiannya-” ucapnya sambil berlari menuju kamarnya.
Keesokan harinya aku harus kembali ke rnakassar. Dan setahun berlalu sejak kunjungari ku ke Buton. Aku kemudian memutuskan untuk tinggal di sana karena aku
ingin mempelajari kebudayaan Buton lebih dalam lagi, dan juga aku ingin bertemu
Barnbang, dan aku penasaran,rnengapa dia pergi saat itu. Senin 07.00 WITA, saat aku tiba
di pulau Buton untuk yang kedua kalinya. Setelah istrahat di rurnah Bibi, aku lantas pergi ke rumah Bambang dengan perasaan senang, “Assalamualaikum, Bambang” ku teriak memanggilnya
“Wa alaikum salam.” ucap seorang ibu yang merupakan ibu dan Bambang.
“Tante, Bambangnya ada..?”
“apa, Bambang..?”
“iya, Bambangnya ada gak, aku ingin ketemu dia, sudah lama terasa tidak berternu.” Ucapku pada
tak kusangka tetesan air mata membasahi pipi ibunda Bambang aku tak mengerti apa yang terjadi
“Tante kenapa..? APa ada hal yang salah” lanjutku kembali
“Bambang... Bambang.... Bambang hiks...sudah tidak ada di dunia ini lagi.”
Tangisan ibunda bambang sudah tak bisa di bendung lagi.
“apa.... apa maksud tante..?” tanya ku tak mengerti
“Bambang... Bambang sudah meninggal nak Bayu, dia sudah meninggal.”
Sekarang tangisannya semakin menjadi-jadi
“tidaak ...tidaak mungkin... tidaak mungkin !” aliran hangat sekektika mengarak surga di antara kedua netraku.
“Ibu Bambang lantas masuk ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah amplop.
“ini adalah pemberian terakhir Bambang, ini ditujukan untukmu.” ucap ibu Bambang
seraya menyerahkan surat itu padaku.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.” tutur pertama dalam surat itu.
“Kalau kan membaca surat ini, artinya aku sudah tidak ada di dunia ini. Maaf. maaf.., aku
tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjelaskan apa pun yang kau tanyakan padaku, karena aku telah dipanggil oleh sang Kholik. Aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan waktu ku akan segerah berakhir. Ingatkan apa harapan terakhir ku ? Kuharap kau masih mengingatnya ya, aku ingin membawa nama Buton di mata dunia, namun sepertinya aku tak bisa mewujudkannya, aku ingin kau yang dapat menggantikan ku dalam memenuhi impian ku ini ... haah,,, kurasa sampai disini suratku, aku harus pergi bertemu sang Kholik, sang pemilik hidup dan mati ku. Sampai jumpa lagi di surga Sahabatku, sampai jumpa, Wassalam.”
Tetesan air mata  kku tak bisa ku bendung lagi, aku menangis sekeras yang aku bisa, tak pedulu dengan keadaan sekitar, aku menangis sejadi-jadinya.
“aku,. . .akan mewujudkan impianmu itu, dan ini adalah janji ku pada mu.” ucapku
seraya mencoba umtuk menenangkan hali ku, namun aku tetap tak bisa menahannya.
Langit sore ini mendung, sangat mendung.kurasa langit juga larut dalam kesedihan yang kualami sekarang. Matahari pun kembali ke peraduannya, menutup lembaran hari ini yang sangat buruk bagiku, dan hai ini adalah hari ke seratus kepergiannya, yang sesuai tradisi maka akan dilaksanakan suatu acara yang disebut “Haroana Pomaloa”.
Dengan membacakan Surah Yasin, kuhaturkan do’a ku padanya.

SELESAI
Karya: Arman Maulana
Kelas XII  IPA Unggulan 1 SMA Negeri 1 Baubau

1 komentar:

  1. Disempurnakan sedikit blognya pak, kalau bisa, dengan mengedit kode html pada template blog, karena tampilan menubar yang diatas agak "lucu" karena diklik tanpa menghasilkan apa-apa... (Home, Business, Download, dll)

    BalasHapus