Cerpen KAU TERBARING DI TANAH BUTON
Karya: Arman Maulana
Hari ini adalah hari pertama ku di
pulau Buton, tepatnya di Kota Baubau, sebuah pulau kecil di sebelah Tenggara
Sulawesi, pulau yang memiliki sumber daya yang melinpah karena merupakan salah
satu penghasil Aspal di Indonesia, dan juga merupakan tempat berdirinya benteng
terluas di dunia, yang mcnurut sejarah, menggunakan putih telur sebagai pengganti
semen dalam pernbuatannya. Sungguh, suatu yang sangat menakjubkan yang tidak
dapat di percaya namun merupakan sebuah kenyataan.
Aku
datang kesini karena orang tua ku mendapatkan proyek di luar kota, dan karena
aku tidak memiliki keuarga di Makassar, maka aku datang ke sini, dan tinggal di
Baadia, suatu wilayah dalam benteng
keraton. Di sini aku tinggal bersama bibi, paman serta kakak sepupu ku, di
scbuah rumah tradisional sederhana, namun bagiku sangat luar biasa. Tanpa ada
kursi maupun meja yang menurutku melarnbangkan kesederhanaan, namun memiliki
seribu makna.
Waktu
menimjukan pukul 0430 WITA, saat dunia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Sunyi...sunyi...sunyi
senyap tak ada suatu suara pun yang terdengar.
“ALLAAIIU AKBAR...
ALLAHU AKBAR”
Suara
azan subuh memecahkan keheningan subuh itu, namun aku masih terbuai dalam
rayuan mimpi indah ku sendiri.
“ASHSHALAATUL
KFIAIRUM MINAN NA UMI”
Lafal
azan itu tantas membangkinkan diriku walaupun mata ini rnasih ingin terpenjam
untuk sesaat saja, narnun aku harus melawannya. Karena aku tidak tahu letak
rnasjìdnya, sehingga kubangunkan kak Anton, kakak sepupuku untuk mengantar ku.
Tidak
lama kemudian, sampailah kami di sebuah masjid, masjid yang memiliki arsitektur
yang sangat berbeda dengan masjid-maiid lainnya, karena mesjid ini tidak
terbuat dan beton, mela.inkan terbuat dan kayu, dengan bentuk yang sederhana, namun
tetap terlihat megah, sungguh mesjid yang mencerminkan kejayaan Islam tempo dulu.
terbuat dan beton, mela.inkan terbuat dan kayu, dengan bentuk yang sederhana, namun
tetap terlihat megah, sungguh mesjid yang mencerminkan kejayaan Islam tempo dulu.
“kak Anto apa namanya masjid ini..?”
“oh,
ini namanya
Masjid Agung
Keraton.”
“ohh... maslld
agung keraton, patitas saja beda. dengan yang lain.”
Kulangkahkan
kaki kanan ku saat masuk ke dahim nieiid.Aku kagum terhadap masyarakat Buton
karena meskipun udaranya sedingin ini namun banyak orang tetap memenuhi
panggilan azan.
Suara
iqamah pun di kumandangkan, segeralah kami mengerjakan sholat.
“ALLAHU AKBAR” suara takbir terdengar dan imam. Alunan
ayat-ayat AI
Quran yang indah, seakan membuatku terbang ke dimensi surga tak pernah kurasakan momen seperti ini sebelurnnYa. Aloi tak tahu mengapa seakan aku lebih dekat kepada
sang Rabbi. Sholat subuh akhirnya selesai dan dari sekian banyak jamaah, ternyata
terdapat seorang yang sebaya dengan ku yang duduk di pojok sana.
Quran yang indah, seakan membuatku terbang ke dimensi surga tak pernah kurasakan momen seperti ini sebelurnnYa. Aloi tak tahu mengapa seakan aku lebih dekat kepada
sang Rabbi. Sholat subuh akhirnya selesai dan dari sekian banyak jamaah, ternyata
terdapat seorang yang sebaya dengan ku yang duduk di pojok sana.
Setelah
sholat, kuberanjak pergi dari rnesjid itu. Di sebuah tempat seperti
benteng. Aku duduk sambil menunggu sang mentari keluar dan peraduannya.
“Assalamu Alaikum.” terdengar suara seseorang menuju kepadaku. “Wa alaikum salam.” ku menjawab salam tersebut saat sumber suara itu tepat berada di depan ku. ternyata itu adalah suara anak yang aku, ternyata di masjid tadi. “yingko ana-ana bau yii wesi, minaka yapai yingko syi umba?” ucap anak itu menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti sama sekali.
“apaa maafaku. Tidak mengerti, apa bisa pakai bahasa Indonesia?” ucap ku sambil
menggaruk kepala. “maaf yah, aku kira kamu tahu bahasa Wolio.” ucap anak itu
“bahasa Wolio?? Apa bahasa Wolio itu bahasa daerah di sini ?“ ucap ku lagi “ya, bahasa Wolio rnerupakan bahasa daerah di sini yang dulu masyarakat buton menggunakan ini bahasa nasional.
benteng. Aku duduk sambil menunggu sang mentari keluar dan peraduannya.
“Assalamu Alaikum.” terdengar suara seseorang menuju kepadaku. “Wa alaikum salam.” ku menjawab salam tersebut saat sumber suara itu tepat berada di depan ku. ternyata itu adalah suara anak yang aku, ternyata di masjid tadi. “yingko ana-ana bau yii wesi, minaka yapai yingko syi umba?” ucap anak itu menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti sama sekali.
“apaa maafaku. Tidak mengerti, apa bisa pakai bahasa Indonesia?” ucap ku sambil
menggaruk kepala. “maaf yah, aku kira kamu tahu bahasa Wolio.” ucap anak itu
“bahasa Wolio?? Apa bahasa Wolio itu bahasa daerah di sini ?“ ucap ku lagi “ya, bahasa Wolio rnerupakan bahasa daerah di sini yang dulu masyarakat buton menggunakan ini bahasa nasional.
“ohh gitu yah.”
“ehh, kenalin
nama ku Bambang.”, ucap anak itu sambil menyodorkan tangannya, bermaksud untuk
salaman.
“nama ku Bayu.”
balas ku seraya.rnenyodorkan tangan ku juga.
Kami lantas berbincang-bincang tentang tempat asal
ku dan tujuan ku datang ke sini aku kagum dengan masyarakat Buton ini, karena
menggunakan tutur kata yang lembut dan
sopan.
sopan.
Sekarang
genap seminggu aku di sini, aku sudah mempunyai banyak teman. Sore itu takala
angin berhembus diantara pepohonan menggoyangkan ranting dan itu taktkaian
angin berhembus di antara pepohonan, menggoyangkan ranting dan dedaunan, aku
berjalan setapak hendak ke rumah Bambang. Dia pernah menuju rumahnya sekali
pada ku.
Assalamualaikum
Bambang.”, ku ketuk pintu rumahnya yang tidak jauh berbeda dengan rumah bibi
ku, rumah panggung yang terbuat dan kayu.
“wa alaikum
salam, siapa yaah?”jawab anak kecil yang mungkin itu adalah adik
Bambang,
“Bambangnya ada?” tanyaku
Bambang,
“Bambangnya ada?” tanyaku
“kenapa ada kata
La Ode di depan namanya, apa ita memang nama aslinya?” terbesit tanya dalam
benakku.
“Bayu, ayo
masuk’ ucap Bambang dan atas rumalnya. Kami lantas naik dan duduk
melantai di sana, yang orang Buton di sebut paseba.
melantai di sana, yang orang Buton di sebut paseba.
“Bambang aku mau
tanya, nama asli mu itu La Ode Bambang yaah ?” tanya penasaran.
“ohh iya. Itu nama lengkap ku.”
“apa maksudnya La Ode itu?”
“itu dulu merupakan panggilan khusus bagi kaum
kerajaan. Atau biasa di sebut juga sebagai marga, dan tidak semua orang toh
yang bisa pake, penggunaan inisial La Ode ini hanya bisa di gunakan oleh
golongan bangsawan, dan hanya bisa oleh Laki-laki saja, beda dengan sekarang,
tapi tetap, hanya laki-laki yang boleh.” Ujarnya
Tiba-tiba adik bBambang datang membawa pisang goreng
dan teh.
“Makasih yaa dek.” ujar Bambang
“jadi untuk perempuan apa dong ?“ ucap ku lagi.
“kalau perempuan menggunakan insial Wa Ode, sama
hainya dengan La Ode, hanya untuk golongan bangsawan atau gvolongan kerajaan”
sambungnya menjelaskan.
“eh,tapi di sinii nuansa agamanya kental sekali ya,
apa lagi dimesjidnya, iya kan?
“itu karena masyarakat Buton
menempatkan agama di tingkat yang paling atas.”
“maksudnya?” tanyaku
penasaran.
“masyarakat Buton sejak dulu sampai sekarang
memegang teguh falsafah yaitu : Yinda Yindamo arata somanamo karo, yinda
yindamo karo somanamo lipu, yinda yindamo lipu somanamo syara, yinda syara
somanamo agama.”
“apa artinya itu?” tanyaku lebih penasaran lagi.
“Bentar dong Bayu, aku habiskan dulu makananku,
tidak baik kalo makan sambil bicara,
itu juga salah satu adat disini.”
itu juga salah satu adat disini.”
“maaf... maaf aku penasaran bangat sih.”
Bambang lantas menghabiskan makanan yang ada
ditangannya dan mulai menjelaskan
lagi.
“jadi,artinya itu jangankan harta yang penting diri pribadi jangankan diri pribadi yang penting kepentingan kampung, jangankan kepentingan kampung yang penting pemerintahan, dan jangankan pemerintahan yang penting agama. Kau deng-arkan!!!
lagi.
“jadi,artinya itu jangankan harta yang penting diri pribadi jangankan diri pribadi yang penting kepentingan kampung, jangankan kepentingan kampung yang penting pemerintahan, dan jangankan pemerintahan yang penting agama. Kau deng-arkan!!!
bahwa agama ditempatkan di tempat yang paling tinggi
itulah mengapa di sini nuansa agamanya kental sekali, dan banyak aturan-aturan
atau larangan-larangan yang dlsebut
pamali.”
“oh.... Jadi gitu yah, pantas saja salah satu filsafat tadi ada di depan pelabuhan, ketika aku pertama kali datang kesini.”
pamali.”
“oh.... Jadi gitu yah, pantas saja salah satu filsafat tadi ada di depan pelabuhan, ketika aku pertama kali datang kesini.”
“Oh,
Bolimo Karo Somanamo Lipu yah!”
“Yups,
betul,
dan sekarang aku tahu apa
artinya.”
“Eh Bambang, aku mau nanya lagi.”
“Apa lagi, aku siap kok untuk menjawabnya, inikan
tugasku juga sebagai masyarakat Buton untuk menjelaskan kepada setiap orang
yang ingin mengetahui tentang seluk beluk Buton” ujarnya penuh semangat.
‘Dipelabuhan kan. ada sebuah patung yang berwarna
emas, itu patung siapa, dan apa maksudnya???”
“Oh. itu yah, itu patung Sultan Murhum dia merupakan raja ke-6 dan merupakan sultan
pertama di pulau Buton dan rnaksud dan patung itu, selain untuk menghorrnati sultan
juga sebagai pertanda ucapan salam kepada semua orang yang datang atau pergì dan pulau Buton ini.” Kamu mengerti ?”
“Oh. itu yah, itu patung Sultan Murhum dia merupakan raja ke-6 dan merupakan sultan
pertama di pulau Buton dan rnaksud dan patung itu, selain untuk menghorrnati sultan
juga sebagai pertanda ucapan salam kepada semua orang yang datang atau pergì dan pulau Buton ini.” Kamu mengerti ?”
“ya aku mengerti.”
Rasa penasaranku akhirnya sedikit terpenuhi namun
masih banyak hal lainnya ingin ku tanyakan tapi, ku rasa sekarang tak akan
cukup waktunya.
Kami melanjutkan menyantap gorengan dan minuman teh
yang telah dibawakan oleh
adik bambang.
adik bambang.
“sebenarnya aku ingin mengetahuì lebih banyak lãgi
tentang Buton tetapi sepertinya untuk saat ini tak akan mencukupi.” ucapku
sambil rnenurunkan gelas berisi teh
“wah bagus itu, aku... aku berjanji, aku akan
menjelaskan apapun yang kamu tanya
tentang Buton ini.”
“baiklah, aku akan pegang janjimu itu, dan kau harus
menjelaskan apapun yang ingin aku tahu apabila kau mengetahuinya juga.”
Kami lantas rnenghabiskan makanan
dan minuman tadi. Suasana sekarang sepi, sepi bagai tak ada seoraug pun di
sana. Mentari pun kembali keperaduannya, seakan telah siap untuk menutup
lembaran hari ini.
“kau tau bayu.” Suara bambang membelah kesunyian
itu.
“Tau apa.”
“ada satu hal yang ingin ku lakukan,aku sangat ingin
membawa nama pulau ku ini, nama pulau Buton, terutama keraton ini ke rancan
internasional, aku ingin nama tahu bahwa di pulau ini, di puiaa kecit ini,
terdapat banyak sekali bai yang luar biasa, tapi....tapi....tapi kurasa aku
tidak akan bisa melakukannya.” tak kusangka Bambang ternyata menitihkan air
matanya.
“apa yang terjadi
aku mencoba meretas hatinya dengan pertanyaan itu.
“tidak,aku tak apa-apa .”
“mana mungkin tidak apa-apa,
ayo kata.......”
“Bayu,” suaranya memotong
pernbicaraanku.
“Bayu, aku ingin kau juga memikirkan yang sama
denganku, aku ingin kan dapat berjanji padaku, apabila aku tak bisa mewujudkan
impianku ini aku ingin kau yang
menggatiannya-” ucapnya sambil berlari menuju
kamarnya.
Keesokan harinya aku harus kembali
ke rnakassar. Dan setahun berlalu sejak kunjungari ku ke Buton. Aku kemudian
memutuskan untuk tinggal di sana karena aku
ingin mempelajari kebudayaan Buton lebih dalam lagi, dan juga aku ingin bertemu
Barnbang, dan aku penasaran,rnengapa dia pergi saat itu. Senin 07.00 WITA, saat aku tiba
di pulau Buton untuk yang kedua kalinya. Setelah istrahat di rurnah Bibi, aku lantas pergi ke rumah Bambang dengan perasaan senang, “Assalamualaikum, Bambang” ku teriak memanggilnya
“Wa alaikum salam.” ucap seorang ibu yang merupakan ibu dan Bambang.
ingin mempelajari kebudayaan Buton lebih dalam lagi, dan juga aku ingin bertemu
Barnbang, dan aku penasaran,rnengapa dia pergi saat itu. Senin 07.00 WITA, saat aku tiba
di pulau Buton untuk yang kedua kalinya. Setelah istrahat di rurnah Bibi, aku lantas pergi ke rumah Bambang dengan perasaan senang, “Assalamualaikum, Bambang” ku teriak memanggilnya
“Wa alaikum salam.” ucap seorang ibu yang merupakan ibu dan Bambang.
“Tante, Bambangnya ada..?”
“apa, Bambang..?”
“iya, Bambangnya ada gak, aku ingin ketemu dia, sudah
lama terasa tidak berternu.” Ucapku pada
tak kusangka tetesan air mata membasahi pipi ibunda Bambang aku tak mengerti apa yang terjadi
tak kusangka tetesan air mata membasahi pipi ibunda Bambang aku tak mengerti apa yang terjadi
“Tante kenapa..? APa ada hal yang salah” lanjutku
kembali
“Bambang... Bambang.... Bambang hiks...sudah tidak
ada di dunia ini lagi.”
Tangisan ibunda bambang sudah tak bisa di bendung lagi.
“apa....
apa maksud tante..?” tanya ku tak mengerti
“Bambang... Bambang sudah meninggal nak Bayu, dia
sudah meninggal.”
Sekarang tangisannya semakin menjadi-jadi
“tidaak ...tidaak mungkin... tidaak mungkin !”
aliran hangat sekektika mengarak surga di antara kedua netraku.
“Ibu Bambang lantas masuk ke dalam rumah dan keluar
membawa sebuah amplop.
“ini adalah pemberian terakhir Bambang, ini
ditujukan untukmu.” ucap ibu Bambang
seraya menyerahkan surat itu padaku.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.” tutur
pertama dalam surat itu.
“Kalau kan membaca surat ini, artinya aku sudah tidak
ada di dunia ini. Maaf. maaf.., aku
tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjelaskan apa pun yang kau tanyakan padaku, karena aku telah dipanggil oleh sang Kholik. Aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan waktu ku akan segerah berakhir. Ingatkan apa harapan terakhir ku ? Kuharap kau masih mengingatnya ya, aku ingin membawa nama Buton di mata dunia, namun sepertinya aku tak bisa mewujudkannya, aku ingin kau yang dapat menggantikan ku dalam memenuhi impian ku ini ... haah,,, kurasa sampai disini suratku, aku harus pergi bertemu sang Kholik, sang pemilik hidup dan mati ku. Sampai jumpa lagi di surga Sahabatku, sampai jumpa, Wassalam.”
tidak bisa menepati janjiku untuk terus menjelaskan apa pun yang kau tanyakan padaku, karena aku telah dipanggil oleh sang Kholik. Aku mengidap kanker otak stadium akhir, dan waktu ku akan segerah berakhir. Ingatkan apa harapan terakhir ku ? Kuharap kau masih mengingatnya ya, aku ingin membawa nama Buton di mata dunia, namun sepertinya aku tak bisa mewujudkannya, aku ingin kau yang dapat menggantikan ku dalam memenuhi impian ku ini ... haah,,, kurasa sampai disini suratku, aku harus pergi bertemu sang Kholik, sang pemilik hidup dan mati ku. Sampai jumpa lagi di surga Sahabatku, sampai jumpa, Wassalam.”
Tetesan air mata kku tak bisa ku bendung lagi, aku menangis
sekeras yang aku bisa, tak pedulu dengan keadaan sekitar, aku menangis
sejadi-jadinya.
“aku,. . .akan mewujudkan impianmu itu, dan ini adalah
janji ku pada mu.” ucapku
seraya mencoba umtuk menenangkan hali ku, namun aku
tetap tak bisa menahannya.
Langit sore ini mendung, sangat mendung.kurasa
langit juga larut dalam kesedihan yang kualami sekarang. Matahari pun kembali
ke peraduannya, menutup lembaran hari ini yang sangat buruk bagiku, dan hai ini
adalah hari ke seratus kepergiannya, yang sesuai tradisi maka akan dilaksanakan
suatu acara yang disebut “Haroana Pomaloa”.
Dengan membacakan Surah Yasin, kuhaturkan do’a ku
padanya.
SELESAI
Karya: Arman Maulana
Kelas XII IPA
Unggulan 1 SMA Negeri 1 Baubau







Disempurnakan sedikit blognya pak, kalau bisa, dengan mengedit kode html pada template blog, karena tampilan menubar yang diatas agak "lucu" karena diklik tanpa menghasilkan apa-apa... (Home, Business, Download, dll)
BalasHapus