PERNAK PERNIK TAMAN SEMERBAK
OLEH: Febrianti Hany Pratiwi
Sang mentari
perlahan keluar dari
singgah sanahnya, menyinari seluruh penjuru bumi
semerbak Baubau. Salah
satu kota di
Sulawesi Tenggara yang
banyak menyimpan sejuta
keanekaragaman, baik budaya
maupun gaya hidup
masyarakatnya yang masih
teguh menggenggam erat
adat istiadat. Kemilau
cahaya yang dikeluarkan
kota ini membuat
Santi terpukau hingga
mengarahkan kedua kakinya
untuk menjelajahi kota yang
terkenal dengan lambang
buah nanas serta
naganya tersebut. Santi
adalah seorang gadis
muda yang memiliki
jiwa petualang serta
rasa ingin tahu yang tinggi,
berbekal itu semua ia pun
memulai perjalanannya dari Jakarta tempat
ia tinggal menuju
Kota Baubau yang
merupakan santapan hangat
bagi jiwa petualangnya.
“Aku sudah
tak sabar untuk
melihat kota yang
disebut Baubau itu”.
Ucapnya dalam hati ketika menaiki
pesawat yang akan
membawanya ke kota
itu.
Setelah beberapa
jam Santi berkelut
dengan hatinya yang
penasaran selama menempuh
perjalanan yang cukup
jauh, akhirnya semua
itu terbalas ketika Santi
menginjakkan kakinya di
bandara Betoambari Baubau.
“Astaga, inikah
yang disebut bandara?”.
Pikirnya dalam hati
ketika melihat suasana
bandara yang sangat
jauh berbeda dengan
bandara yang sering
ia jumpai. Belaian
angin sepoi-sepoi menenangkan
pikirannya yang tengah
kelelahan akibat perjalanan
yang baru saja
ia lalui.
Berbekal alamat
adik ayahnya yang
kebetulan tinggal di
kota itu, ia
pun melangkahkan kakinya
untuk mencari alamat
tersebut.
“Pak tahu
alamat ini nggak”.
Sapanya pada tukang
ojek yang ia
temui saat keluar
dari bandara.
“Oh, iya
kayaknya saya tahu
alamat ini ee,
mau saya antar
ke sana dek?”.
Jawab tukang ojek
itu dengan ramah
serta nada suara yang
masih aneh terdengar
di telinga Santi.
“Ok Pak,
aku dianterin ke
alamat ini ya?”.
Kata Santi sembari
tersenyum.
Selama perjalanan
menuju rumah keluarganya
dengan menaiki ojek,
Santi sangat menikmati
hidangan berupa panorama
alam yang terdapat
di Kota Baubau,
pepohonan langsung menyambutnya
ketika keluar dari
gerbang bandara.
“Hm…. mana ada yang
kayak gini aku
dapat di tempat
tinggalku, barusan keluar
dari bandara aja
udah linglung liatin
tumpukan kendaraan, beda
banget sama kondisi
di sini”. Keluhnya
dalam hati.
Tak lama
kemudian perhatian Santi
tertuju pada kokohnya
benteng yang ia
lihat saat perjalanan.
“Pak, itu
benteng apa ya?
Kok gede banget ,
panjang lagi”. Tanya
Santi kepada tukang
ojek yang sedang
bersamanya.
“Oh, itu
benteng Keraton namanya
dek, alamat yang
kita tuju itu
letaknya di daerah
Keraton yang ada
di atas sana”.
Jawab tukang ojek
tersebut sambil menunjuk
arah pendakian menuju
Keraton.
Sesaat kemudian
sampailah mereka di
tempat tujuan. Kedatangan
Santi disambut hangat
oleh keluarganya, wajarlah
ia adalah keluarga
yang jauh dan
jarang bahkan tak
pernah berkunjung di
rumah mereka.
“Nak, kenapa
kamu tidak memberitahu
kami, kalau kamu
sudah sampai di bandara, kan
bisa om jemput”. Sapa
Pak Hasan, adik
ayah Santi.
“Hehehehe….
nda apa-apa kok
om, lagian aku
udah biasa jalan
sendirian. Kan ada alamat yang
ayah berikan kepada
aku”. Jawab Santi.
Mereka pun melangkah masuk
ke rumah Pak
Hasan, namun langkah
kaki Santi terhenti
sejenak untuk memperhatikan
rumah tersebut. Rumah
yang tak terlalu
besar, namun begitu
unik di mata
Santi, rumah yang
memiliki kolong, serta
terbuat dari kayu.
“Om kok
dari tadi aku
perhatiin di daerah
sini semua rumah
bentuknya sama ya,
ada kolongnya, hehehehe..”.
ucap Santi saat
memperhatikan rumah omnya
tersebut.
“Kamu itu
kelamaan di kota
San, ini adalah
rumah adat di Baubau. Namanya
rumah Malige atau
masyarakat di sini
biasa menyebutnya rumah
panggung San”. Jawab
pak Hasan dengan
ramahnya.
“Oh, gitu
ya om. Tapi tadi
sebelum masuk daerah
Keraton, semua rumah
yang aku temui
bentuknya udah pada
modern semua”. Tanya
Santi, penasaran.
“Itu karena
cuma di Keraton
ini yang masih
menjaga kebudayaan San,
tapi ada juga
rumah selain di Keraton yang
masih memakai model
rumah adat ini,
cuma mungkin kamu
tidak terlalu memperhatikan
dengan baik”. Jawab
Pak Hasan dengan
penuh kesabaran, wajarlah Santi
adalah gadis yang
bisa dibilang cerewet
dan selalu ingin
tahu.
Cahaya rambulan
kini menyelimuti kesunyian
rumah tempat Santi
menginap.
“Nak, mai
mo ta kande”.
Ajak nenek Santi,
yang kebetulan memakai
bahasa daerah, yang
disebut bahasa Wolio.
“Apa
nek? Aku
nggak ngerti”. Jawab
Santi dengan wajah
yang kebingungan.
“Mari mi
makan, itu yang
coba nenek ucapkan”.
Sahut Randi, anak
tunggal dari Pak
Hasan.
“Wee…
ana mai
mo kaasi ee!!!”.
Teriak si nenek.
“Ayo kita
pergi makan, nenek
sudah mengomel itu”.
Ajak Randi, sambil
menarik tangan Santi,
yang masih kebingungan
dengan bahasa yang
digunakan si nenek.
Hidangan istimewa
telah tersedia di atas meja. Namun,
Santi masih duduk
dengan hati penasaran
akan makanan yang
masih asing di
matanya.
“Om, itu
yang bentuknya seperti
kerucut namanya apa ya?”. Tanya
Santi, sembari menunjuk
salah satu makanan
yang ada di hadapannya.
“Oh, itu
namanya kasuami San, salah
satu makanan khas
di Baubau, yang
terbuat dari ubi”.
Jawab pak Hasan.
“Wah, enak
ya om”. Ucap
Santi sambil melahap
makanan itu.
“Nak, ini
juga tidak kalah
enak. Makanan ini
namanya manu nasu wolio artinya ayam
masak wolio”. Ucap
Pak Hasan , sembari
memberikan Santi sepotong
ayam khas Buton
itu.
“Iya om,
makanan tradisional di
sini enak-enak ya om”. Jawab
Santi sambil tersenyum.
“Boli marobo
kaasi ee, so
kande mo adhi”.
Cetus si nenek,
lagi-lagi bahasa asing
itu terdengar, membuat
penasaran telinga Santi
akan arti di
balik setiap kata
itu. Namun, Santi
tidak berani menanyakannya
sebab dari intonasi
si nenek, Santi
tahu itu merupakan
sebuah teguran.
Makanan malam
itu di santap
mereka tanpa meninggalkan
bekas, malam semakin
larut. Namun, suara
canda tawa Santi
dan Randi masih
terdengar hingga memecah
keheningan di setiap
sudut rumah yang
dulunya bagaikan tak
berpenghuni, maklumlah rumah
itu hanya dihuni
oleh pak Hasan,
nenek serta Randi.
“Kolemo kaasi
ana-ana ee, malomo
siy”. Ucap nenek,
menghentikan obrolan Santi dan Randi.
Tanpa pikir
panjang lagi Randi
langsung menyuruh Santi
segera ke kamarnya
untuk beristrahat. Malam
itu pun berlalu
dengan cepatnya.
Suara merdu
ayam, bagaikan alarm
alam yang berbunyi,
berdengung di telinga
Santi dan membuat
matanya terbuka lebar.
Pada pagi yang
cerah itu, Santi
dan Randi meminta
izin untuk berjalan-jalan di sekeliling Keraton.
“Om, bolehkan
Randi menemaniku untuk
melihat benteng –benteng di
luar sana?”. Pinta
Santi kepada Pak
Hasan yang saat
itu sedang asyik
bercengkrama dengan koran
di tangannya.
“Oh, silakan
nak. Ran kamu
jaga Santi ya,
jangan pulang kesiangan.
Ceritakan pula semua
yang kamu tahu
tentang daerah kita ini kepada
Santi”. Ucap Pak
Hasan, sembari memberi
amanat kepada Randi.
“Oke
bapak”.
Jawab Randi dengan
tegas.
Santi dan
Randi pun berkeliling
melihat suasana benteng
Keraton yang masih
diselimuti embun pagi.
“San, benteng
di Baubau ini
adalah benteng terpanjang
di dunia. Benteng
ini sudah berdiri
dari zaman penjajahan
dulu dan masih
bertahan sampai saat
ini, walaupun ada
juga yang pernah
mengalami perbaikan. Setiap
batu di benteng
ini konon saling
direkatkan menggunakan putih
telur, San”. Tutur
Randi panjang lebar,
meniru gaya pemandu
wisata.
“Wah buanyak
banget Ran, lalu
kuning telurnya dikemanakan
dong”. Jawab Santi,
sembari tertawa cekikikan.
“Aduh kamu
ini diberitahu, tapi malah
dijadikan bahan tertawaan”.
Timpa Randi
Setiap detik
bagaikan sebuah permata
yang sangat berharga
bagi Santi, ia
begitu dimanjakan dengan
semua yang terdapat
di daerah yang
merupakan kawasan benteng
terpanjang di dunia
itu. Santi pun
sangat terpukau dengan
salah satu masjid
tertua yang ada
di sana yaitu
masjid Agung Keraton,
ada pula tiang
bendera dari kayu
yang masih berdiri
kokoh, walaupun tiang
tersebut kelihatan rapuh
serta hampir roboh.
Sebelum menjadi kota
Baubau dan menganut
sistem pemerintahan demokrasi,
dahulu Buton menganut
sistem monarki, yaitu
pada masa kesultanan.
Seluruh kegiatan kesultanan
Buton terpusat dalam
Keraton. Sebelum bergabung
dengan NKRI, Buton
telah menjadi Negara
yang berdiri sendiri,
bahkan Buton memiliki
UU yaitu Martabat
Tujuh serta bendera
yang disebut longa-longa,
Buton pun memiliki
mata uang sendiri
yaitu kampua. Buton
bergabung dengan NKRI pada tahun
1959, yaitu saat
Sultan Buton ke- 38
dipanggil oleh IR.Soekarno
di Makassar untuk
meminta Buton agar
mau bergabung dengan
NKRI, sehingga masa
kesultanan di Buton
pun berakhir.
Di
sekitar masjid Agung
Keraton terdapat beberapa
benda peninggalan dari
masa lalu, yang
masih dapat disaksikan
hingga sekarang, salah
satunya yaitu Batu
Popaua, batu ini
berbentuk lubang yang
cukup besar, konon
batu ini merupakan pijakan
kaki dari Raja
pertama Buton yaitu
Wakaaka, kaki dari
Wakaaka dapat membentuk
batu tersebut, hal
ini diakibatkan oleh
kekuatan yang sangat
dahsyat dari sang
Raja. Batu Popaua
digunakan saat pelantikan
Sultan, kaki dari
calon Sultan dimasukkan
ke dalam batu
tersebut. Di samping
batu tersebut terdapat
pula Baruga, yaitu
suatu tempat yang
digunakan untuk mengadakan
kegiatan. Dari masjid
Keraton pun kita
dapat melihat dengan
jelas satu-satunya kuburan
yang menurut Santi
sangat unik.
“Ran, itu
kuburan siapa?”. Tanya
Santi, sambil menunjuk
letak kuburan itu.
“Oh, itu
kuburan Sultan Murhum
San, ia adalah
Sultan pertama di
Buton. Ia adalah
orang yang berjasa
San, dahulu ia
pernah melawan seorang
bajak laut bermata
satu yang datang ke
Buton, bajak laut
itu bernama La
Bolontio, ia ingin
menguasai Buton, San. Namun,
untunglah ada Lakilaponto
yaitu nama dari
Sultan Murhum, ia
melawan bajak laut
itu menggunakan taktik , San.
Mereka bertarung di
pinggir pantai, sehinnga
Lakilaponto memanfaatkan pasir
yang ada di
sekitarnya untuk melawan
La Bolontio, dalam
keadaan terdesak akhirnya
Lakilaponto melemparkan segenggam
pasir di mata
La Bolontio sehingga
ia tidak bisa
melihat, saat itulah
Lakilaponto menghabisi nyawa
La Bolontio, San.
“Wah, hebat
sekali Sultan Murhum
itu ya. Tapi
kok namanya ada dua Ran?”
Tanya Santi.
“Sebenarnya nama
Sultan itu adalah
Lakilaponto San, namun
setelah ia meninggal
namanya lebih dikenal
dengan Murhum, itu
adalah sebutan bagi
orang yang sudah
meninggal, kalau yang
sering kita dengar
itu adalah Almarhum, San”. Jawab
Randi.
Tak terasa
sang raja siang
semakin jauh meninggalkan
singgah sanahnya, hingga
membuat rasa panas
menerobos masuk dalam
tubuh Santi dan
Randi. Mereka pun
memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah,
si nenek sedang
asyik membuat makanan.
“Nek, semua
makanan ini untuk
apa?”. Tanya Santi
kepada nenek yang
saat itu sedang
menggoreng pisang.
“Ini untuk
haroa sebentar malam
nak”. Jawab nenek,
untunglah kali ini
nenek menggunakan bahasa
Indonesia, sehingga Santi
tidak kebingungan lagi.
“Haroa itu
apa nek?”. Santi
kembali melontarkan pertanyaan
“Haroa itu
adalah salah satu
budaya yang ada
sejak dulu di
Baubau nak, dan
masih dilestarikan sampai
sekarang. Fungsi haroa
itu untuk mengenang
para arwah ataupun
menghormati mereka”. Jawab
nenek.
Satu lagi
bukti bahwa masyarakat
Baubau sangat menjaga
hubungan dengan masa
lalu, yaitu budaya
yang terus mereka
lestarikan. Mereka pun
sangat menghormati para
leluhur , serta budaya
dijadikan mereka sebagai
gaya hidup yang
terus bertahan ditengah
besarnya arus globalisasi.
Kalimat itu terpahat
dengan sendirinya dalam
pemikiran Santi, ia begitu
terpukau dengan kebiasaan
yang dilakukan masyarakat
Baubau.
Saat haroa
pun tiba, rumah
kediaman mereka dipenuhi
oleh para tetangga
maupun kerabat. Hidangan
tradisional tersusun rapi
di setiap talang,
dengan gaya penyajiannya
pun yang unik,
seperti ayam yang
ditaruh di dalam
gelas serta jumlah
kue tradisional yang
telah ditentukan , semua
itu sangat berbeda
dengan cara penyajian
yang selalu dilihat
Santi. Salah seorang
tokoh adat dipanggil
untuk memimpin haroa,
setelah pembacaan beberapa
doa maka sajian
yang telah tersedia
dapat disantap bersama,
keakraban terpancar terang
dalam ruangan kecil
itu. Haroa ternyata
dijadikan ajang mempererat
tali silahturahmi, sungguh
pemandangan yang langkah
bagi Santi. Jiwa
Santi semakin penasaran
dengan budaya yang
ada di Baubau.
“Om, selain
haroa ada budaya
lain nggak yang
dilestarikan di Baubau ?”.
Tanya Santi kepada
Pak Hasan yang
sedang duduk santai.
“Ada nak,
salah satunya adalah
posuo. Posuo
sama seperti pingitan
nak, namun jika
pingitan di daerah
lain dilakukan setelah
menginjak dewasa, berbeda
dengan di sini
nak, kalau di
sini posuo wajibnya
dilakukan saat akan
menikah, tapi posuo
juga bias dilakukan
saat telah menginjak
dewasa. Posuo dilakukan
oleh para gadis,
mereka dikurung dalam
jangka waktu yang
telah ditentukan dan
melakukan beberapa ritual
nak”. Jawab Pak
Hasan
“Lalu bisakah
om sedikit menceritakan
aku tentang gaya
hidup serta sikap
dari para masyarakat
di Baubau?”. Tanya
Santi yang semakin
penasaran.
“Begini nak,
umumnya masyarakat Baubau, ataupun Buton
memegang salah satu
falsafah buton yaitu pobinci-binci ki
kuli, yang artinya
saling mencubit diri
sendiri. Maksudnya sebelum
kita melakukan sesuatu
kepada orang lain
kita harus merasakan
dulu apa akibat
dari hal yang
kita lakukan itu,
masyarakat Buton mengumpamakannya dengan
mencubit diri sendiri,
apabila kita merasakan
sakit saat dicubit,
maka kita tidak
boleh mencubit orang
lain. Sejarah dari
masa lalu merupakan
pedoman gaya hidup
masyarakat Baubau pada
umumnya nak, walaupun
beberapa budaya ada
yang sedikit bergeser
akibat arus zaman
yang semakin maju”.
Jelas pak Hasan.
“Aku semakin
kagum deh dengan
sikap masyarakat di
sini om”. Ucap
Santi, menanggapi penjelasan
omnya tersebut.
Tak terasa
sudah seminggu, Santi
menjalani hari-hari istimewanya
di Baubau, hampir
seluruh tempat wisata
ia datangi bersama
Randi. Bahkan Santi
telah banyak belajar
bahasa daerah di
Baubau yaitu bahasa
Wolio dari neneknya,
bahasa yang dulunya
sangat asing di
telinganya kini telah
ia pergunakan untuk
berbicara, walaupun belum
sepenuhnya lancar.
“Ran, nanti
kalau aku pulang
ke Jakarta , aku
akan menceritakan kisahku
saat berdiri di
hadapan naga yang
sangat ganas loh. Hehehehe”. Ucap
Santi kepada Randi,
mengenang saat
ia berjalan-jalan di
Pantai Kamali, tempat
patung naga kebanggaan
Kota Baubau berada.
“Hehehe..
iya. Terus jangan
lupa juga sama
ekornya ya”. Jawab
Randi, mengingatkan Santi
kembali saat ia
berkunjung ke Palagimata,
tempat ekor naga
tersebut.
Mitos
tentang naga itu
yang digambarkan dalam
patung sangat membekas
dalam ingatan Santi,
apalagi penempatan kepala
dan ekor naga
tersebut sangat unik,
seakan-akan naga tersebut
menerobos masuk ke
dalam tanah. Ekor
naga terdapat pada
dataran tinggi sedangkan
kepalanya muncul di
daratan rendah berdekatan
dengan laut. Tak
terbayang begitu panjangnya
naga tersebut.
Di hari
terakhirnya berada di
Baubau, Santi menyempatkan
diri untuk membuat
waje bersama neneknya.
Waje adalah salah
satu kue tradisional
di Baubau dan masih
sering di konsumsi
oleh masyarakatnya.
“Nek, waje
ini boleh Santi
bawah ke Jakarta,
sebagai oleh-oleh kan?”.
Tanya Santi kepada
nenek yang sedang
mengaduk waje.
“Umbe adhi
ana”. Jawab nenek
dengan singkat.
Santi pun
tersenyum, ia tak
lagi kebingungan dengan
bahasa itu, setidaknya
sedikit demi sedikit
ia sudah dapat
mengetahui artinya. Santi
sangat semangat membuat
waje hingga ia
lupa akan waktu
keberangkatannya.
“San kamu
belum siap-siap kah?
Setengah jam lagi
kamu sudah harus
ada di bandara
kan?”. Ucap pak Hasan
saat melihat Santi
masih asyik membuat
waje.
“Astaga….
iya om,
aku segera siap-siap”.
Jawab Santi sambil
terburu-buru menuju kamarnya.
Waktu yang
begitu singkat baginya
untuk menjelajahi Kota
Baubau, namun ia
tetap merasa bangga
karena telah menginjakkan
kaki di Kota
tersebut. Kota yang
menyimpan begitu banyak
kebudayaan yang tak
pernah lekang oleh
waktu, setiap budaya
tersebut bagaikan pernak
pernik yang memukau
setiap pandangan, melekat erat
dalam Kota tersebut.
Sunguh taman semerbak
yang menyebarkan keharuman
di setiap belahan
bumi. Ditambah lagi
dengan penataan Kota
yang sangat cantik
serta modern yang menyatu dengan
budaya, sungguh sebuah
kota idaman.
Santi pun
melangkahkan kaki untuk
pulang ke tempat
tinggalnya, membawa segudang
kenangan dari Kota
Baubau, sambil memegang
kotak yang berisi
waje dari si
nenek, Santi pun
berlalu menuju bandara.
Pak Hasan, nenek
serta Randi pasti
akan merindukan sosok
Santi, seorang gadis
pemberani, yang haus
akan pengetahuan.
“Mbuli yaku
ee”. Ucap Santi
saat di dalam
taksi, sambil melambaikan
tangan kepada keluarganya
itu.
“kota ini
telah membuka mata
aku, tentang betapa
pentingnya suatu kebudayaan
dalam suatu wilayah,
tanpa budaya tersebut
kota itu bagaikan
mencoba berjalan dengan
satu kaki”. Itulah
kalimat yang terucap
saat Santi berada
di pesawat dan
untuk terakhir kalinya
melihat wajah Kota
Baubau dari ketinggian,
yang seakan-akan tersenyum
padanya.
OLEH: Febrianti Hany Pratiwi
SMA
NEGERI 1 BAUBAU KELAS XI IPA NGGULAN 1 TAHUN 2012







0 komentar:
Posting Komentar